TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Desainer Indonesia Luar Biasa Kreatif
Desainer sepatu wanita paling populer ini mengungkap rahasia sukses.

VIVAnews - Mengaitkan Malaysia dan mode, ada satu nama yang pasti langsung tercetus: Jimmy Choo. Pria kelahiran, George Town, Penang, Malaysia pada 15 November 1948 itu sukses mendirikan brand sepatu kenamaan. Walau sebagai desainer malang-melintang di Inggris, dan akhirnya mancanegara, dia tidak pernah lupa menyebut Malaysia sebagai kampung halamannya.

Jimmy Choo memang sudah melepas bisnis jutaan dolarnya kepada partnernya, Tamara Mellon, pada 2001. Namun bukan berarti Jimmy tidak lagi berasosiasi dengan sepatu dan dunia mode, dia justru memperluas jangkauannya dengan bekerjasama dengan pemerintah Malaysia sebagai duta pendidikan juga pariwisata.

Saat berkunjung ke acara Intrade & Malaysia Fashion Week 2014 di Kuala Lumpur, Malaysia, VIVAlife berkesempatan berbincang secara eksklusif dengan pria ramah ini. Di tengah jadwalnya yang sibuk sebagai salah satu penasihat gelaran mode terbesar di Negeri Jiran itu, Jimmy tersenyum ramah dan mengiyakan permintaan wawancara hanya dalam hitungan detik.

"Silakan duduk, Anda mau minum apa?" katanya, sembari menarik sebuah kursi plastik dan duduk dengan santai. Di antara lalu-lalang orang di lantai pameran, Jimmy berbagi cerita, tentang kisahnya sebagai desainer sepatu dari Malaysia, kecintaannya pada keluarga dan kedekatannya dengan keluarga Kerajaan Inggris.

Berikut adalah wawancara VIVAlife dengan Jimmy Choo:

Bagaimana Anda memulai karir sebagai desainer sepatu di Inggris?

Saya lahir dari keluarga pembuat sepatu. Lulus dari sekolah menengah di Penang, Malaysia, saya melanjutkan kuliah di Cordwainers, Hackney, Inggris. Saya tidak berasal dari keluarga berada, saya harus membiayai kuliah saya sendiri dengan bekerja sebagai pelayan restoran juga cleaning service di perusahaan sepatu. Setelah lulus, saya membuka toko di Hackney dan saya beruntung saya bertemu Kate Phelan dari Vogue. Dari situ, semuanya sejarah.

Kapan Anda mulai mendesain?

Sejak usia 11 tahun. Saya selalu dekat dengan sepatu dan saya selalu melihat orang tua serta paman saya membuat sepatu. Saya pertama kali mendesain sepatu untuk ibu, dia memanggil saya "puppy", karena itu saya membuat sepatu dengan gambar anak anjing untuknya. Sampai saat ini, saya masih punya sepatu itu.

Anda sudah berpengalaman puluhan tahun di industri mode internasional, menurut Anda, apa yang paling penting untuk bertahan sebagai desainer dan pengusaha mode?

Yang terpenting adalah kerja keras. Tanpa kerja keras, Anda tidak akan sukses. Kedua, jangan pernah berhenti belajar dan jangan malu untuk bertanya. Terakhir, hormati orang lain. Di dunia fashion, Anda tidak bisa berhasil tanpa bantuan orang lain, karena itu, menjaga hubungan baik dengan orang lain sangatlah penting.

Apa hal terpenting dalam hidup Anda?

Keluarga. Dukungan keluaga adalah segalanya. Selama karir saya, selalu ada istri dan anak-anak saya di belakang. Mereka sepenuhnya mendukung apa yang saya lakukan.

Menurut Anda, apa definisi sukses?

Ketika orang lain menghargai dan mengakui apa yang saya kerjakan. Kemanapun saya pergi orang mengenal saya sebagai Jimmy Choo dan mengetahui karya saya.

Sukses juga berarti bisa membantu orang lain mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Tapi itu semua tidak akan berarti, jika tidak dikerjakan dari hati.

Ini menarik. Anda berbicara dengan bekerja dari hati. Apa yang membuat hati menjadi faktor penting dalam pekerjaan Anda?

Bagi saya, bekerja dengan hati berarti mengerjakannya secara tulus. Ketulusan dalam bekerja, akan membuat hasil kerja tersebut lebih bisa dirasakan oleh orang lain.

Tentu saja, untuk desainer, ketulusan itu akan dirasakan oleh konsumen. Merancang busana atau aksesoris indah itu mudah, kerumitannya terletak pada penyampaian ketulusan hati dalam sebuah produk.

Siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Anda?

Tentu saja yang pertama adalah keluarga saya. Tanpa mereka, saya tidak akan ada disini sekarang. Saya juga berterimakasih pada para guru saya, Majalah Vogue yang membuat saya terkenal, juga kepada keluarga Kerajaan Inggris atas kesetiaan mereka menggunakan karya saya.

Lady Diana selalu menggunakan sepatu buatan saya selama 7 tahun, juga para sepupu dan menantu, seperti Sarah Ferguson.

Bagaimana rasanya menjadi salah satu nama besar di dunia fashion?

Sebenarnya, saya tidak pernah merasa saya adalah desainer besar. Saya selalu merasa saya adalah Jimmy Choo yang sama seperti ketika saya berangkat ke London dulu, untuk belajar fashion. Saya, sama saja seperti Anda, makan makanan yang sama dan minum minuman yang sama.

Bagaimana cara Anda menghadapi stres dalam pekerjaan? Terlebih Anda harus bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dengan karakter berbeda?

Ya, itu memang tidak bisa dihindari. Tapi menyiasati stres, tidak selalu harus dengan melampiaskan kesal atau mengutarakan amarah.

Saya selalu mencoba untuk sabar, tidak pernah menaikkan nada bicara saat berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, orang lain akan merasa lebih dihormati ketimbang saat kita berbicara dengan nada tinggi. Karena saya percaya, saling menghormati akan melahirkan rasa saling menyayangi.

Akankah Anda pensiun dari mendesain sepatu?

Tidak. Saya tidak bisa berhenti dan tidak ada yang bisa mengikat tangan saya dan menghentikan saya mendesain. Saya mencintai pekerjaan ini, karena itu saya tidak akan berhenti.

Mengenai penyelenggaraan Malaysia Fashion Week, apa pendapat Anda?

Ini baru tahun pertama dan saya akui Malaysia masih harus banyak belajar. Tapi yang terpenting, kita sudah punya wadah untuk saling terkoneksi, bertukar ide dan sebenarnya, itulah yang menjadi tujuan utama dari acara ini.

Bahwa kita menjalin pertemanan, desainer Asia terkoneksi bersama dan tumbuh bersama dan itu semua bermula dari Malaysia Fashion Week.

Bagaimana dengan industri sepatu di Malaysia?

Cukup berkembang. Dibandingkan 10 tahun lalu, perkembangan yang terjadi sangat signifikan.

Dulu, Malaysia sangat tidak fashionable, sekarang kita punya pameran sepatu setiap tahun. Tahun ini kami sudah menginjak usia 6 tahun. Pasarnya pun terus bertambah kuat, permintaan banyak berdatangan termasuk dari pasar internasional.

Apakah Anda melihat akan banyak generasi muda Malaysia yang tertarik menjadi desainer sepatu?

Satu hal yang pasti, semakin banyak anak muda yang memilih pendidikan mode. Tidak hanya sebagai perancang busana, banyak juga yang memilih menjadi desainer aksesori.

Saya melihat itu sebagai potensi. Dulu, banyak yang sekolah ke luar negeri, sekarang banyak yang belajar menjadi desainer sepatu, langsung dari para shoemaker di Malaysia.

Banyak juga desainer muda yang membangun bisnis di dalam negeri. Itu membuat industri semakin berkembang karena konsumen punya semakin banyak pilihan dan banyak kesempatan kerja.

Lalu bagaimana dengan wacana menjadikan Malaysia sebagai destinasi mode?

Ini baru pertama kalinya Malaysia mengadakan acara pekan mode dan pameran dagang secara bersamaan. Kami berterimakasih akan perhatian yang diberikan pemerintah, terutama Matrade, untuk acara ini.

Kami ingin membantu desainer dan manufaktur lokal untuk lebih dikenal dunia, karena itu acara ini melibatkan desainer internasional, yang berasal dari negara-negara di Asia. Ini baru langkah kecil, namun kita bertujuan menjangkau lebih jauh lagi.

Apakah Asia bisa menjadi kekuatan baru di dunia mode?

Kenapa tidak? Kita melihat banyak keturunan Asia berkibar di dunia mode sekarang ini, seperti Alexander Wang, Thakoon, Jason Wu. Buyer-buyer besar pun kini datang dari Asia seperti Tiongkok. Saya yakin Asia bisa menjadi kekuatan tersendiri di dunia fashion layaknya Eropa dan Amerika Serikat.

Dimana kekuatan Asia, terutama Asia Tenggara, di dunia mode?

Sepuluh tahun lalu, ketika saya kembali ke Malaysia. Saya melihat, Malaysia dan Asia Tenggara sama sekali tidak fashionable.

Tidak up-to-date, banyak barang tiruan. Tidak ada ide baru untuk ditawarkan. Tapi sekarang semua berubah. Indonesia, Thailand, Filipina dan Malaysia menjadi jauh lebih sadar mode dan itu menarik.

Banyak desainer muda yang menawarkan sesuatu yang berbeda dan itu yang dicari buyer. Ada eksotisme timur yang menarik perhatian semua orang.

Lalu bagaimana industri mode Eropa jika dibandingkan dengan Asia?

Paris, London, Milan dan New York sudah terjun di industri mode selama puluhan tahun lamanya, sementara Asia baru saja mulai. Tentu saja, terdapat perbedaan pengalaman dan jam terbang.

Mereka punya lebih banyak soild buyer dan datang dari seluruh dunia. Selain itu, mereka juga menawarkan lebih banyak produk fashion.

Mereka punya 4 musim, ada banyak gaya dan koleksi yang ditawarkan. Asia, misalnya Malaysia dan Indonesia hanya punya dua musim, sehingga kita harus punya sesuatu berbeda untuk ditawarkan.

Seberapa jauh kita tertinggal dari Paris, London, Milan, dan New York?

Tentu saja tidak bisa dimungkiri kita tertinggal jauh. Mereka mulai jauh sebelum Asia sadar mode, tapi bukan tidak mungkin jarak itu diperpendek.

Asia punya potensi besar. Kita tadi sudah berbicara tentang kreativitas desainer Asia juga kekuatan buyer. Semua itu merupakan modal utama untuk menjadi kiblat fashion.

Apa pendapat Anda tentang desainer Indonesia?

Oh, mereka luar biasa kreatif. Mereka juga punya workmanship yang patut diacungi jempol dan itu sangat penting di industri ini. Saya bisa bilang bahwa Indonesia punya banyak talenta besar di dunia fashion.

Berkaitan dengan kesuksesan, menurut Anda, apakah desainer muda harus memulai bisnis mereka di luar negeri atau di dalam negeri?

Itu tergantung pada target yang ingin dicapai. Jika berbicara pengalaman, saya pikir saya sangat beruntung karena ketika saya memulai di London, saya mendapat banyak bantuan dari Majalah Vogue dan mereka menerbitkan liputan 8 halaman untuk koleksi saya tahun 80an. Berkat itulah nama saya mulai melambung.

Anda telah menjadi mentor bagi banyak desainer muda, apakah tujuan Anda untuk mencetak banyak desainer aksesoris baru?

Jika berbicara dari sisi industri, tentu saja regenerasi diperlukan. Tapi, yang saya ingin lakukan bukanlah melahirkan desainer yang hanya bagus di atas kertas dan piawai berbisnis, namun mereka yang bekerja dari hati.

Memerhatikan detail, termasuk peka menangkap keinginan pasar, apa yang diinginkan dan diperlukan konsumen. Rancangan indah tidak selalu berarti fungsional dan fungsional tidak berarti tanpa gaya.

Saya juga ingin melahirkan desainer yang mandiri, yang bisa membangun bisnis mereka dengan tangan sendiri, tanpa bergantung dengan bantuan orang lain.

Seberapa penting peran pemerintah dalam membangun sebuah industri fashion?

Tentu saja sangat penting. Pemerintah punya jangkauan jaringan yang lebih luas, baik domestik maupun internasional, mereka kenal buyer, mereka punya sumber daya.

Tanpa mereka, sumber daya dan tenaga kita terbatas. Oleh karena itu, sinergi antara pihak swasta dan pemerintah selalu menjadi modal utama untuk membangun sebuah industri, termasuk fashion.

Alasan itu juga yang membuat kami sangat berterimakasih pada Malaysian International Trade (Matrade) yang sangat mendukung kami menjadikan Malaysia sebagai destinasi mode sekaligus menjadi platform yang akan mendorong kemajuan desainer dan pengusaha mode dalam negeri. (ren)

TUTUP