TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Ratu Margrethe II Penasaran Soal Indonesia
Kunjungan perdana. Boyong dua menteri dan 63 pengusaha.
VIVA.co.id - Ratu Kerajaan Denmark, Margrethe II dan Pangeran Consort Henrik akan tiba di Indonesia pada Rabu, 21 Oktober 2015. Kunjungan Margrethe II dinilai bersejarah karena ini menjadi kali perdana Ratu yang bertahta sejak tahun 1972 lalu itu menjejakkan kaki di Indonesia.

Momen ini semakin istimewa, karena Margrethe II sendiri yang menyatakan minatnya untuk berkunjung ke Indonesia. Selain itu, kunjungan dilakukan bertepatan dengan 65 tahun hubungan Indonesia dan Denmark. 

Sementara, sang suami, Pangeran Consort Henrik, sudah beberapa kali menyambangi kawasan Asia Tenggara. Dia pernah tumbuh besar di Vietnam. Bahkan, pada bulan Maret 2010 lalu, Henrik pernah menjejakkan kaki ke Kalimantan Tengah, Indonesia, sebagai Duta Besar organisasi World Wildlife Fund (WWF). 

Di sana, dia ikut melakukan penanaman bibit pohon Tutup Kabali (Diospyorus Sp), yang merupakan salah satu spesies endemik hutan rawa gambut dan pakan orang utan.

Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge, yang ditemui VIVA.co.id secara khusus mengatakan, kunjungan Ratu Margrethe II merupakan peristiwa yang sangat besar baginya. Oleh sebab itu, jelang hari H, dia dan staf di kedutaan terlihat semakin sibuk mempersiapkan kedatangan pasangan kerajaan di Jakarta. 

"Ratu Margrethe II akan melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Tetapi, satu hari sebelumnya, Beliau telah tiba di Jakarta. Setelah itu, Beliau akan tetap berada di Indonesia sementara waktu karena ada ketertarikan pribadi," kata Klynge. 

Klynge menambahkan Ratu Margrethe II akan berada di Indonesia selama satu pekan. Selain mengunjungi Jakarta, Ratu yang bernama lengkap Margrethe Alexandrine Þórhildur Ingrid itu akan menyambangi Yogyakarta. Di sana, dia akan bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubowo X dan mengunjungi Candi Prambanan. Sementara, di saat bersamaan, Pangeran Consort Henrik akan mengunjungi Surabaya. 

Menurut Klynge, kunjungan yang dilakukan terpisah merupakan strategi untuk memaksimalkan kunjungan kenegaraan. Pasangan kerajaan ini juga akan memboyong dua menteri dan 63 pengusaha Denmark. Salah satunya, untuk menjajaki peluang berinvestasi di Indonesia.

Menurut Klynge dengan adanya kunjungan ini, bisa mengenalkan Indonesia ke pentas internasional. Sebab, menurut dia, Indonesia tertutup bayangan dua negara besar Asia lainnya yakni India dan Tiongkok.

Lalu, kerja sama apa saja yang dibidik Pemerintah Denmark saat Ratu Margrethe II berkunjung ke Indonesia? Bagaimana pendapat Klynge mengenai hubungan kedua negara kelak saat dipimpin Presiden Joko Widodo? Serta apa pelajaran berharga yang diambil warga Denmark pasca insiden penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh harian terbesar Denmark, Jyllands Posten?

Berikut perbincangan khusus VIVA.co.id dengan Dubes Casper Klynge di ruang kerjanya di Kedutaan Denmark pada awal bulan ini: 

Ratu Margrethe II didampingi Pangeran Consort Henrik pada pekan ini akan berkunjung ke Indonesia. Kami dengar, Ratu Margrethe II sendiri yang memilih berkunjung kemari, apakah ada alasan khusus?

Saya rasa ada dua alasan mengapa Ratu memilih untuk berkunjung ke Indonesia. Pertama, Beliau memang memiliki ketertarikan khusus terhadap kawasan Asia Tenggara. Pangeran Consort Henrik tumbuh besar di Vietnam, sehingga kawasan Asia Tenggara bukan sesuatu yang asing bagi Beliau. 

Pangeran Consort Henrik juga beberapa kali berkunjung ke Vietnam. Beliau juga pernah menyambangi Indonesia untuk kepentingan pribadi. Saat itu Beliau mewakili organisasi World Wildlife Fund (WWF) sebagai Duta Besar dan berlibur. 

Sementara, bagi Ratu Margrethe II, ini akan menjadi kunjungan pertama baginya ke Indonesia. Dia belum pernah kemari sebelumnya. Kunjungan ini juga menjadi kunjungan kenegaraan pertama bagi Ratu. Jadi, ini peristiwa yang besar bagi kami. Mereka akan berada di Indonesia cukup lama, salah satunya karena ada ketertarikan pribadi.

Alasan lain mereka berkunjung kemari, karena faktor yang saya sebut Indonesia kian dikenal di dunia internasional. Menurut saya, Indonesia merupakan negara besar, tetapi tertutup oleh bayang-bayang Tiongkok dan India. Publik internasional lebih terfokus ke Tiongkok dan bagaimana berbisnis dengan mereka. 

Kadang saya sering melontarkan lelucon, mungkin tidak pas, tetapi masuk akal. Seandainya Indonesia berlokasi di benua yang lain dan bukan di Asia, maka semua orang akan membicarakan mengenai Indonesia, sebab negara ini masuk ke dalam jajaran lima besar dengan penduduk terbanyak di dunia. Namun, pada faktanya secara geografis, Indonesia terletak di benua yang sama dengan Tiongkok dan India.

Tetapi, dari perspektif saya, perlahan-lahan pola pikir seperti itu mulai berubah. Dunia internasional mulai beranggapan Indonesia seharusnya ikut serta menjadi bagian dari tiga negara penting di abad ke-21. Saya rasa itu pula yang menyebabkan negara di kawasan Skandinavia seperti Denmark berminat untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Indonesia.

Ada keuntungan mutualisme bagi Indonesia dan Denmark dalam menjalin kemitraan ini. Selain memiliki alasan pribadi, juga terdapat alasan politis yakni kami ingin menjalin hubungan lebih erat dengan Indonesia. Oleh sebab itu mengapa dalam rombongan Ratu Margrethe II dan Pangeran Consort Henrik, terdapat dua Menteri serta delegasi pengusaha ternama dari Denmark.  

Apa yang diketahui oleh Ratu Magrethe II mengenai Indonesia?

Saya pernah bertemu dengan Beliau dua kali. Dari pembicaraan itu, terungkap kunjungan semacam ini tidak sering Beliau lakukan, sehingga dia sangat menantikan untuk bisa berkunjung ke Indonesia.

Saya juga akhir-akhir ini menjalin komunikasi intens dengan pihak Kerajaan dan tersirat dengan jelas, mereka benar-benar tidak sabar ingin berkunjung kemari untuk melihat Indonesia, Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Ratu ingin melihat senyum dan berkomunikasi dengan warga lokal.

Ratu dan Pangeran Kerajaan Denmark

(Pangeran Kerajaan Denmark (kiri), Consort Henrik dan Ratu Margrethe II (kanan) usai menghadiri acara pernikahan keluarga kerajaan Luksemburg pada Oktober 2012. (FOTO: REUTERS)

Berapa lama Ratu Margrethe II dan Pangeran Consort Henrik akan berada di Indonesia?

Kunjungan kenegaraan akan berlangsung selama tiga hari. Tetapi, mereka akan tiba satu hari sebelumnya, sesudah itu, mereka akan tetap berada di Indonesia untuk kepentingan pribadi. Sehingga, total mereka akan berada di Indonesia selama satu pekan. 

Mereka akan bersama-sama mengunjungi beberapa tempat ketika berada di Indonesia. Yang menjadi fokus penting adalah pasangan Kerajaan ini tidak hanya berada di ibukota Jakarta, mereka juga akan berkunjung ke provinsi lain di Indonesia yakni Yogyakarta dan Jawa Timur. 

Karena kunjungan kenegaraan hanya berlangsung selama tiga hari, sehingga sulit untuk berkunjung ke provinsi lain seperti Papua. Di hari terakhir, Pangeran Consort Henrik akan berkunjung ke Surabaya, sedangkan Ratu Margrthe II menyambangi Yogyakarta. Mereka memang akan melakukan kunjungan terpisah, tetapi hal tersebut dilakukan untuk memaksimalkan kunjungan kenegaraan ini. 

Pangeran Consort Henrik akan memanfaatkan peluang ketika ke Surabaya. Sedangkan saat berada di Yogyakarta, Ratu akan melihat beragam kebudayaan setempat, seperti batik, berbicara di Universitas Gadjah Mada, dan makan siang dengan Sri Sultan Hamengkubowono X. 

Hal lain yang perlu saya sampaikan yaitu akan ada jumpa pers di Candi Prambanan, Yogyakarta di hari terakhir kunjungan. Mereka akan menjawab pertanyaan dari wartawan dan menjelaskan apa saja hasil dari kunjungan itu serta bagaimana mereka melihat Indonesia.

Apakah ada bidang-bidang tertentu yang dijadikan target bagi ke-63 pengusaha yang ikut dalam rombongan Ratu Margrethe II dan Pangeran Consort Henrik ke Indonesia?

Saya perlu menjelaskan terlebih dahulu, slogan dari kunjungan ini yaitu "Kemitraan Inovatif untuk Abadi ke-21", karena kami ingin menciptakan kemitraan. Ini bukan hanya sekedar kami datang untuk meraih keuntungan dari Indonesia. Slogan ini juga bermakna membantu Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan, jika kami bisa menyediakan teknologi dan pengetahuan atau membagi pengalaman pemerintah kami di bidang tertentu, maka di sini lah kami bisa membantu.

Sehingga tidak ada agenda tersembunyi atau menginginkan sesuatu sebagai balasan, karena kami murni ingin membantu Indonesia. Poin selanjutnya yang ingin saya sampaikan yaitu, empat bidang yang kami fokuskan dalam kunjungan kenegaraan Ratu: maritim, perkotaan dan teknologi bersih, agri bisnis dan desain serta gaya hidup. 

Agri bisnis merupakan bidang yang terkait dengan produk makanan dan perikanan, teknologi bersih menyangkut energi, sedangkan maritim menyangkut pembangunan infrastruktur untuk mendukung bidang itu. Semua ini terangkum dalam satu booklet. Di dalamnya juga terdapat penjelasan mengenai para pengusaha yang hadir di masing-masing bidang.

Salah satu bidang yang tengah dikembangkan oleh Indonesia yakni maritim, karena sektor tersebut menjadi visi Presiden Jokowi. Bagaimana Denmark bisa membantu mewujudkan hal itu?

Ada beberapa hal yang masuk akal, pertama dengan membantu infrastruktur pelabuhan untuk membantu konektivitas antar pulau, penyediaan kapal, dan membangun jembatan. Di Denmark sendiri, pembangunan jembatan menjadi sesuatu yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun. Ada perusahaan Denmark yang khusus membangun jembatan di area terpencil. 

Hal lain yang dianggap penting yaitu pemantauan dan operasi penyelamatan serta evakuasi. Seperti misalnya dalam kasus jatuhnya pesawat maskapai Air Asia yang terjadi pada Desember tahun lalu. Butuh waktu untuk mencari lokasi jatuhnya pesawat. Beberapa bidang tadi menjadi sektor yang bisa dibantu oleh Denmark.

Jika kita melihat agenda Menteri Susi Pudjiastuti yang ingin memberantas tindak penangkapan ilegal, Indonesia membutuhkan peralatan untuk mengawasi dan juga armada untuk menangkap pelaku. Ini merupakan proyek yang tengah kami lakukan di Sulawesi Utara. 

Proyek yang kami lakukan yaitu menawarkan jasa pengiriman ikan tuna dengan menggunakan kontainer dengan fasilitas pendingin modern. Sehingga ketika produk ikan tuna tiba di Jepang, kualitasnya tetap terjaga. Selain itu, produk ikan tuna lebih cepat masuk ke pasar global.

Selama ini, mereka hanya menggunakan fasilitas biasa yang memakan waktu dua pekan, sehingga begitu tiba di tangan pelanggan, kualitasnya menurun. Itu merupakan salah satu bidang yang bisa dikerjasamakan. Tentu, perusahaan kami diuntungkan, tetapi, perekonomian Indonesia juga ikut untung. Yang kami lakukan hanya menghubungkan antara nelayan dengan konsumen.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge

(Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia ketika diwawancarai VIVA.co.id di ruang kerjanya di Kedutaan pada awal bulan ini. FOTO: Muhammad Solihin)

Bagaimana dengan kerja sama di bidang teknologi bersih dan lingkungan? 

Di tahun 1970an, terdapat krisis minyak global sehingga mengakibatkan harga minyak dunia merosot tajam. Denmark ikut terkena imbasnya, karena kami bergantung kepada sektor minyak. 

Sehingga, pemerintah kami ketika itu memutuskan untuk tak lagi terlalu bergantung kepada energi minyak bumi dan menggantinya dengan energi terbarukan. Semula kami melakukan hal itu memang bukan untuk menyelamatkan planet bumi, tetapi karena situasi perekonomian dalam keadaan kacau. 

Berdasarkan aturan pemerintah, maka perusahaan dilarang terlalu bergantung kepada energi dari minyak bumi dan mencari sumber dari energi terbarukan. Saat itu, aturan tersebut menuai banyak keluhan dari perusahaan. 

Tetapi, jika dilihat konsekuensinya saat ini, kami justru bersyukur. Seperti misalnya perusahaan Vestas, mereka menghasilkan energi dari turbin angin. Perusahaan lainnya seperti PT Grundfos Pompa, mereka memproduksi berbagai pompa seperti AC atau menyedot air. 

Dengan menggunakan pompa dan mengurangi 50 persen penggunaan energi, Anda bisa menciptakan situasi yang sama-sama bermanfaat, karena daripada Indonesia membutuhkan 35 ribu megawatt listrik, penggunaan energi justru jauh lebih efisien. 

Di sini, Anda bisa melihat teknologi baru yang bisa membantu Indonesia. Kami berharap saat kunjungan nanti, akan ada penandatanganan kontrak besar dengan ladang angin (menggunakan turbin angin) di Indonesia. Dari ladang angin itu bisa menghasilkan 62,5 megawatt listrik. Ini juga bisa menjadi peluang mengenalkan energi bersih kepada pasar Indonesia.

Apakah juga akan ada nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani selama kunjungan kenegaraan ini?

Kita tidak pernah akan tahu. Tetapi, dari prediksi kami akan ada sekitar 6 hingga 7 MoU yang akan diteken, mulai dari bidang maritim, agri bisnis, energi, pembebasan visa untuk pemegang paspor diplomatik, pendidikan, dan kebudayaan. Selain juga ada kemitraan bagi kedua negara agar jalinan hubungan bilateral lebih kuat.

Tetapi, itu adalah kesepakatan antar pemerintah. Nantinya, akan ada kesepakatan antar pengusaha yang mengikuti. 

Selanjutnya hubungan bilateral...

TERKAIT
TUTUP