TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Saya Kecewa dengan BNPT
Salah satu cara tangkap teroris dengan menciptakan kesejahteraan.

VIVA.co.id - Menjelang tutup tahun 2015, polisi mencokok sejumlah orang yang diduga terlibat dengan jaringan terorisme. Penangkapan dilakukan di sejumlah daerah, yakni Sukoharjo, Cilacap, Mojokerto, Gresik, Tasikmalaya, dan Bekasi.

Polisi mengatakan, terduga teroris yang ditangkap di Bekasi berasal dari jaringan yang berbeda dengan kelompok yang ditangkap sebelumnya. Polisi menyatakan, terduga teroris yang dibekuk di Bekasi berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan sejumlah kelompok radikal lain di luar negeri. Penangkapan ini seolah membuktikan, ancaman masuknya ISIS ke Indonesia bukan isapan jempol belaka.

Meski demikian, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed meminta, masyarakat tidak panik dan mudah terprovokasi. Sebab, secara geografis dan ideologis, Indonesia terpaut jauh dengan ISIS.

Menurut dia, salah satu cara yang ampuh untuk menangkal terorisme dan ISIS adalah dengan menciptakan kesejahteraan dan keadilan. Sebab, ia yakin, terorisme dan radikalisme tak akan tumbuh di negara yang sejahtera dan adil.

Ia juga berharap, pemerintah tak selalu menggunakan pendekatan militeristik dalam menyelesaikan persoalan terorisme dan ancaman ISIS. Berikut petikan wawancara VIVA.co.id dengan salah satu petinggi ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini. Wawancara dilakukan di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Polisi menangkap sejumlah orang yang diduga terkait dengan terorisme dan ISIS. Tanggapan Anda?

Itu yang saya rasa perlu dicari tahu. Indonesia tidak ada hubungannya dengan agenda mereka dan tidak ada kepentingannya dengan konflik di Timur Tengah yang sekarang ini terjadi khususnya konflik di Irak dan Siria.

Secara politik?

Secara politik, Indonesia juga tidak ada permusuhan dengan Sunni dan Syiah. Bahkan, Indonesia mayoritas penduduknya Sunni. ISIS kan Sunni. Dia tentu tidak ada alasan untuk memusuhi sesama kelompok Sunni.

Kalaupun ada hubungannya dengan pemerintah, Indonesia ini kan memiliki hubungan baik hampir dengan semua negara. Bahwa Indonesia baik dengan Amerika itu menjadi bagian dari politik bebas aktif. Tapi, pada saat yang sama Indonesia juga baik dengan Arab Saudi, Irak, Mesir atau negara-negara lainnya.

ISIS mengklaim akan mendirikan negara Islam, bagaimana posisi Muhammadiyah?

Muhammadiyah sudah pernah menyampaikan pandangan resmi tentang ISIS yang intinya. Pertama, menurut Muhammadiyah, ISIS itu bukan organisasi Islam. Tapi, hanya gerakan yang mengatasnamakan Islam.

Kedua, Muhammadiyah berpendapat, kekhalifahan sudah tidak ada sejak wafatnya Ali Bin Abi Thalib sebagai khulafaur rosyidin keempat. Muhammadiyah juga tidak sependapat dengan gagasan ISIS untuk mendirikan satu kekhalifahan. Apalagi dengan khalifah yang sudah mendeklarasikan diri yaitu Al Baghdadi sebagai khalifah.

Selain itu?

Secara politik, Indonesia menerima dan mendukung Pancasila sebagai dasar negara. Karena itu, Muhammadiyah tidak ada agenda untuk mendirikan negara Islam atau mengubah dasar negara Pancasila menjadi berdasarkan Islam.

Muhammadiyah ingin membangun masyarakat Islami atau Indonesia yang Islam. Dalam pandangan Muhammadiyah, Pancasila itu adalah dasar negara yang Islami, yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, dasar negara yang umat itu bisa berlomba-lomba bersama komponen bangsa yang lainnya untuk membangun Indonesia ini menjadi negara yang maju dan bermartabat.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menangkal terorisme dan ISIS?

Pertama, pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa pandangan politik dan agama ISIS itu lemah. Di sini harus ada penjelasan dari pemerintah. Selama ini yang menjelaskan kan hanya ormas-ormas Islam. Pemerintah sendiri tidak pernah secara eksplisit menyampaikan hal itu.

Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat?

Masyarakat tidak perlu khawatir dengan ancaman ISIS. Karena, aparatur keamanan di Indonesia mampu mengatasi berbagai macam kemungkinan serangan yang dilakukan ISIS. Jadi bukannya pemerintah ini menakut-nakuti masyarakat. Tapi justru harus menyampaikan pada masyarakat tidak ada alasan bagi masyarakat untuk khawatir dengan ancaman itu karena negara mampu menjamin keamanan mereka.

Bagaimana dengan ajakan untuk bergabung ISIS?

Masyarakat tidak perlu terpengaruh dengan provokasi ISIS. Karena, ISIS ingin mendirikan negara Islam di Irak dan Suriah. Itu kan nun jauh di sana. Jadi tidak usah terpengaruh dengan iming-iming itu. Juga tidak usah berangkat dari Indonesia ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan tentara ISIS.

Ada pandangan, Indonesia merupakan lahan subur bagi tumbuhnya radikalisme. Tanggapan Anda?

Pandangan itu tidak didukung realitas faktual dengan kondisi yang ada saat ini. Menurut saya, umat beragama di Indonesia, apa pun agamanya termasuk Islam, adalah kelompok yang toleran, moderat, dan terbuka. Tapi, tentu karena jumlah umat beragama ini sangat banyak, maka tidak bisa dipungkiri ada kelompok-kelompok yang cenderung ekstrem.

Kelompok-kelompok ekstrem ini jumlahnya sangat minoritas di hampir semua agama. Tapi, tentu tidak bisa kita menafikan bahwa kelompok ini memang ada. Kaitannya dengan sinyalemen bahwa Indonesia tempat bertumbuhnya paham radikalisme, menurut saya harus dilihat dari faktor-faktor lain di luar agama.

Di Indonesia pernah hadir DI/TII juga NII?

Itu kan produk Orde Lama. Kelompok-kelompok ini kan pendukung Bung Karno. Bahkan sebagiannya adalah tentara. Tapi, karena mereka tidak puas dengan keadaan, ada persoalan dengan ketidakadilan, alienasi, tidak ada akomodasi terhadap aspirasi dan kepentingan mereka, maka satu kelompok itu akan cenderung menjadi radikal. Selama bisa kita hilangkan, radikalisme itu akan berkurang.

Lalu, bagaimana dengan bom Bali dan Marriott?

Saya kira itu juga sudah masa lalu. Di dalam Indonesia terdapat kesadaran besar bahwa Indonesia akan maju atau mundur atau bubar, penentunya adalah umat Islam. Artinya, kalau umat Islam mayoritas adalah yang terdidik, memiliki wawasan keagamaan yang luas, sikap toleransi yang tinggi, maka terorisme itu hampir tidak punya tempat.

Sekali lagi bahwa ada masyarakat yang berpandangan seperti paham terorisme jangan dijadikan kesimpulan bahwa kelompok yang kecil ini merepresentasikan sebagian besar umat Islam yang ada di Indonesia.

Menurut Anda, mengapa orang bisa menjadi radikal?

Seseorang jadi radikal bukan karena agamanya, tapi faktor lain di luar agama. Misalnya, kalau mengalami kesulitan ekonomi, dia akan cenderung untuk radikal. Dan dia akan gunakan agama sebagai justifikasi dari radikalisme yang dilakukan.

Selain faktor ekonomi?

Kalau mereka tidak mendapat pengakuan publik. Misalnya, karena etnis mereka yang minoritas atau karena mereka pernah ada persoalan politik, maka mereka yang akan cenderung melawan. Tapi kelompok ini juga sebenarnya sangat sedikit. Kalau kita lihat mainstream Islam Indonesia terutama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama serta yang lainnya semua ormas itu menentang ISIS. Karena menentang ISIS maka tidak ada alasan orang khawatir dengan adanya ISIS. Termasuk di dalamnya ancaman radikalisme.

Menurut Anda, mengapa radilkalisme ini berkembang?

Radikalisme bisa berkembang kalau masyarakat hidup dalam ketidakadilan. Baik ketidakadilan ekonomi, sosial, dan politik. Pengalaman selama ini menunjukkan radikalisme tidak bisa tumbuh dalam masyarakat yang secara sosial dan ekonomi mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang sebaik-baiknya.

NU dan Muhammadiyah berpaham moderat, lalu apa yang membuat radikalisme bisa tumbuh di Indonesia?

Ada faktor yang sifatnya domestik, keadaan di dalam negeri, ada faktor yang berasal dari perkembangan dunia global. Kalau itu dikaitkan dengan dalam negeri, pengakuan terhadap identitas apakah suku, ras, atau agama, kalau ini mendapatkan pengakuan dan pelayanan yang baik, maka terorisme itu akan mati dengan sendirinya.

Tapi kalau yang sifatnya pengakuan sosial ini buruk. Ada kelompok yang teralienasi karena dia minoritas, atau ada pemaksaan untuk orang mengikuti agama-agama tertentu terutama dari sisi simbol-simbol keagamaan, maka keadaan itu bisa menjadi salah satu sebab kebangkitan radikalisme.

Agama seringkali dijadikan justifikasi teologis atas perilaku kelompok radikal ini. Dia tergusur dari kariernya. Yang menggusur orang agama lain, dia berusaha meniadakan agama yang lainnya itu dan ini sangat bervariasi antara satu daerah dengan yang lain. Tergantung tingkat kemajuan suatu masyarakat.

Lalu apa solusinya?

Perlu untuk mendorong masyarakat untuk hidup lebih inklusif, bergaul dengan mereka yang berbeda keyakinan, hidup bertetangga dengan mereka yang berbeda agama, itu adalah salah satu dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghindarkan ekstremisme.

Karena, kalau masyarakat hidup dalam masyarakat yang terbuka, berinteraksi secara alamiah dengan masyarakat yang berbeda keyakinan, maka perbedaan tidak akan menjadi persoalan. Tapi kalau dia bergaul di lingkungan sendiri, eksklusif di lingkungan tertentu, tidak berinteraksi dan berintegrasi dengan masyarakat akan terjadi gejala seperti itu.

Apa yang sudah dilakukan Muhammadiyah untuk menangkal paham radikalisme?

Muhammadiyah berusaha untuk terus melakukan penanaman Manhaj Muhammadiyah. Artinya, paham agama menurut Muhammadiyah. Jadi, bagaimana Alquran dan hadis dipahami, dan keduanya diamalkan. Itu yang membuat Muhammadiyah relatif bisa terus menjaga sikap moderatnya.

Di muktamar yang lalu ada penegasan Indonesia sebagai Darul Ahdi Wal Syahada. Artinya, Indonesia sebagai negara perjanjian atau kesepakatan atau Darul Ahdi. Kedua, Indonesia sebagai Darul Syahada artinya Indonesia sebagai tempat pembuktian dan pengabdian bagi warga Muhammadiyah untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Ini yang dilakukan Muhammadiyah untuk membendung pengaruh radikalisme termasuk membendung pengaruh ISIS.

Bagaimana dengan pengaruh gerakan yang mengatasnamakan agama Islam dari luar Indonesia?

Memang ada kelompok-kelompok yang terpengaruh dari gerakan luar negeri. Misalnya Hizbut Tahrir atau ISIS. Dia sebenarnya produk impor yang masuk ke sini. Masuk ke Indonesia bisa melalui jalur interaksi personal, perkenalan dan sebagainya. Bisa juga melalui pengalaman pendidikan, misalnya orang Indonesia belajar ke Jerman, Inggris atau Perancis.

Mereka melihat bahwa ada kelompok yang berusaha mempertahankan keyakinannya yang dengan itu mereka berani tampil dengan sangat kontras dengan masyarakat pada umumnya.

Apakah Muhammadiyah dilibatkan dalam upaya menangkal tumbuhnya radikalisme?

Selama ini pemerintah mengundang Muhammadiyah, tapi Muhammadiyah tak begitu tertarik dengan program yang dibuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Misalnya ada diskusi, yang menurut kami efektivitasnya sangat kecil dan pendekatan birokrasinya terkesan sangat menggurui. Sehingga  kita ingin partisipasi alamiah saja. Kalau memang mau bekerjasama oke kita kerja sama. Tapi kalau tidak bisa dikerjasamakan karena banyak hal ya sudah kita jalan sendiri-sendiri.

Apakah Muhammadiyah dengan NU atau ormas lainnya ada kerja sama dalam menangkal terorisme dan paham radikalisme?

Selama ini yang ada sama-sama bekerja. Jadi, belum ada kerja sama dari ormas Islam. Tapi, semua menyatakan tidak setuju dan semua melangkah. Jadi belum ada kerja sama. Yang ada sama-sama bekerja. Karena itu ke depan umat Islam perlu lebih berjiwa besar dalam kerja sama untuk bertoleransi dengan kelompok yang berbeda program. Seringkali karena koordinasi tidak ada, jadi ormas Islam berjalan masing-masing.

Bagaimana Anda menilai kinerja BNPT dalam menangkal radikalisme?

Kami kecewa dengan kinerja BNPT. Bahkan saat periode Pak Din Syamsudin menjadi ketua umum, beliau sampaikan BNPT dibubarkan saja. Itu lembaga yang hasilnya tidak jelas tapi jelas menghabiskan dana. Hasil kerja tidak terbukti. Tapi bahkan belanjanya mendapatkan dukungan luar negeri.

Densus 88 itu dukungannya luar negeri. Jadi BNPT dan Densus dibubarkan saja. Pemerintah tak perlu bentuk itu. Kalau ingin menangkal radikalisme dari sisi yang berkaitan dengan pemikiran, bekerjasama dengan ormas Islam. Pada sisi penindakan, itu ranahnya aparat penegak hukum dan aparatur keamanan

Terorisme selalu dikaitkan dengan Islam. Tanggapan Anda?

Mengaitkan Islam dengan terorisme itu dalam beberapa hal aktual, tapi dalam banyak hal lebih banyak opini. Artinya, yang menyebut Syiah atau Sunni teroris itu lebih karena secara politik dan ekonomi sedang tidak beruntung. Karena itu apa yang dilakukan selama ini, harus diperbaiki dan pemerintah harus membuka diri untuk bermitra dengan ormas yang memiliki basis di akar rumput untuk kegiatan yang realistis dan konkrit. Jangan hanya simbol dan janji.

Lalu apa saran Anda?

Radikalisme dan terorisme. Keduanya membangun relasi sosial yang terbuka. Relasi sosial membuat masyarakat berbagi pengalaman dan informasi. Ketiga, ISIS berkaitan dengan paham agama, pemerintah harus berani membuat tandingan baik dalam bentuk buku, majalah, tampilan di website sebagai counter paham radikal. Jadi bukan dengan menutup situs penyokong radikalisme, karena pemerintah bisa melanggar hak masyarakat mendapatkan info. Tapi cara dengan menampilkan website untuk counter radikalisme.

Selain itu pemerintah juga bisa membuat pelatihan public volunteer yang intinya kelompok muda. Kelompok muda banyak dan rentan terpengaruh karena tidak memahami ajaran agama secara luas dan benar. Polanya harus lebih membumi dan mengakar. Sehingga tidak menggunakan cara militeristik atau regulasi yang membuat orang saling mencurigai.

Kan ada upaya untuk mengkriminalkan pengguna media sosial yang menebarkan kebencian. Jadi kalau telepon dan sms bisa disadap. Kalau isinya menyebarkan kebencian bisa dikriminalisasi. Ini cara yang kurang tepat. Yang perlu dibangun pendekatan kultural yang utamakan pemahaman ajaran agama, pembentukan perilaku yang memungkinkan mereka berinteraksi secara terbuka dan berpartispasi menciptakan rasa aman secara sukarela.

Untuk masyarakat?

Masyarakat tidak boleh cuek melihat tetangga atau rekan sejawat yang terpengaruh gerakan radikal. Kader ini harus diperbanyak pemerintah. Sehingga tidak memberantas dengan mencurigai semua orang atau melarang berbagai macam kegiatan yang menjadi sebab terjadinya paham radikal.

Banyak yang menilai, isu ancaman ISIS dan terorisme hanya proyek aparat keamanan. Supaya tidak dicurigai, solusinya perlu ada pelibatan masyarakat dan program pemerintah untuk afirmasi dan rehabilitasi untuk mereka yang menjadi kelompok radikal. Jadi harus dengan langkah nonmilteristik. Pikiran orang kan tidak bisa diadili. Orang bisa radikal. Tapi kalau tidak melakukan tindakan kriminal kan tidak bisa ditangkap?

TERKAIT
TUTUP