TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Negara Ini Berdasarkan Konstitusi
Namanya sering dikaitkan dengan Ratu Pantai Laut Selatan.

VIVA.co.id – Namanya sering dikaitkan dengan Ratu Pantai Laut Selatan, Nyai Roro Kidul dan semua yang berbau mistik. Tak hanya itu, ia juga dituding sesat dan syirik. Perhatiannya yang tinggi terhadap seni dan budaya, membuatnya kerap menjadi sasaran kritik, karena dianggap menyekutukan Tuhan.

Sikap dan kebijakannya, sering mengundang kontroversi. Ketegasannya dalam merawat budaya lokal dan keberagaman, membuatnya dimusuhi sejumlah ormas Islam. Beberapa kali ia dihadang, di-sweeping dan diusir oleh Front Pembela Islam (FPI), saat menghadiri acara di Jakarta. Seban, ia dituding memusuhi Islam.

Dedi Mulyadi memang eksentrik. Penampilannya sederhana, dengan ikat yang yang tak pernah lepas dari kepalanya. Bicaranya lugas dan jelas, juga tegas. Namun, di balik kesederhanaannya, orang nomor satu di Kabupaten Purwakarta ini memiliki visi dan misi yang jelas dalam membangun daerahnya. Ia juga menelorkan sejumlah kebijakan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh rakyat.

Beberapa waktu lalu, VIVA.co.id sempat berkunjung ke rumah dinasnya di kompleks Pemerintah Daerah, Jalan Ganda Negara, Purwakarta. Kepada VIVA.co.id, Dedi mengisahkan pengalamannya selama memimpin Purwakarta.

Ia juga mengklarifikasi sejumlah tudingan yang dialamatkan kepadanya. Tak lupa, ia juga menyampaikan harapan dan targetnya dalam memimpin salah satu kabupaten di Jawa Barat tersebut. Demikian petikan wawancaranya.

Saat berpidato dalam sidang PBB, Anda mengatakan, desa harus terjaga basis budayanya, agar menjadi bagian dari ketahanan bangsa. Bisa dijelaskan?

Spirit negara adalah hidup dan menghidupkan. Maka, kota dan desa harus memiliki kekuatan dan spirit yang sama, atau setara.

Artinya, selama ini belum setara?

Hari ini, hal itu terbalik. Sumber-sumber daya alam yang ada di desa dieksploitasi besar-besaran, sehingga melahirkan kemiskinan di desa. Padahal, hampir semua sumber daya alam yang ada itu bersumber dari desa.

Pertanyaannya, apakah desa yang sumber daya alamnya dikeruk tersebut makmur, atau tidak? Hal itu yang mendorong saya untuk segera membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kecerdasan masyarakat desa.

Apa kaitannya dengan basis budaya?

Masyarakat desa merasa budayanya tertinggal. Mereka beranggapan, masyarakat kota itu budayanya tinggi. Sehingga, terjadi 'pembelian kebudayaan'. Pembelian mode pakaian, makanan, hiburan, dan bahasa. Sehingga, selain kehilangan kekayaan alam, masyarakat desa juga kehilangan kekayaan kebudayaan. Maka, orang-orang pedesaan menjadi konsumtif. Hal ini melahirkan kemiskinan.

Dampaknya?

Kepercayaan diri orang desa menjadi luntur, kepercayaan diri akan pertaniannya luntur. Sehingga anak-anak desa tak lagi menyukai pertanian. Kepercayaan diri terhadap peternakannya luntur, anak-anak desa tak menyukai peternakan.

Lalu?

Mereka pergi ke kota dan menjadi kelas miskin baru. Jadi gelandangan, jadi preman, menjadi beban. Oleh perkotaan diburu, disuruh pulang lagi. Pulang ke desanya dia sudah enggak punya apa-apa. Ini kan problem sosial yang harus segera diselesaikan. Maka, harus ada sebuah kebijakan revitalisasi kebudayaan yang dilakukan oleh negara, di mana desa menjadi kekuatan fundamen dalam negara. Pengelolaan sumber daya alam juga harus melibatkan masyarakat desa.

Selain itu?

Masyarakat desa harus dibangun kepercayaan dirinya, bahwa kebudayaan yang dimilikinya bernilai tinggi. Dari kepercayaan diri, maka akan menjadi kekuatan ekonomi.

Bagaimana Anda melihat peran Undang-undang Desa?

Ketika bicara soal UU Desa, yang dibicarakan selalu soal anggaran. Semuanya ribut tentang persoalan anggaran. Bagaimana anggaran dikelola, bagaiamana auditnya, fokusnya ke sana. Itu hal teknis yang tak harus dibicarakan, cukup regulasi yang berjalan. Tetapi, yang harus dibangun hari ini adalah kepercayaan diri masyarakat desa.

Katakan bahwa makanan desa itu adalah makanan Indonesia yang sebenarnya. Katakan bahwa pakaian orang desa adalah pakaian Indonesia yang sebenarnya. Katakan bahwa keseniannya orang desa adalah kesenian Indonesia yang sebenarnya. Karena Indonesia yang sebenarnya adalah desa.

Kemudian, distribusi ekonomi mulai diatur. Antara pedesaan dan perkotaan tidak boleh timpang, infrasturktur harus sama, pembagian sistem keuangan tak boleh langsung terpusat, harus didorong di desa. Ada kesetaraan.

TUTUP