TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Saya Tak Minta Apa-apa dari Warga DKI, Tapi Tawarkan Solusi
Prabowo sempat bertanya sampai kapan Sandi mau jadi pengusaha.

VIVA.co.id - Setelah tekadnya bulat maju sebagai bakal calon gubernur, Sandiaga Salahuddin Uno mulai sibuk melakukan safari politik. Di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta nanti, pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969 tersebut, sadar bahwa lawan-lawannya bukan rival mudah.

Termasuk, bakal calon petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang kembali akan maju untuk periode keduanya. 

Saat diwawancarai VIVA.co.id beberapa waktu lalu di kantornya di Gedung Recapital, Jakarta Selatan, Sandi, begitu sapaan akrab Sandiaga Uno menuturkan alasannya yakin maju di kontestasi politik tersebut.
 
Dia juga menjelaskan program andalannya untuk merebut hati warga Jakarta melalui pendekatan yang berbeda.
 
Menurut pengusaha muda tersebut, tak perlu masuk gorong-gorong untuk menunjukkan ketulusan seorang calon pemimpin. Simak wawancara lengkapnya berikut ini:
 
Sudah mulai sibuk safari politik?
 
Bakal, enam bulan ke depan sampai September.
 
Melelahkan?
 
Enggak sih. Semangat, karena dibarengi ketemu teman lama. Ke pasar tradisional, APSI, Asosiasi Pasar terus kita ke habib-habib, terus juga menyapa warga di beberapa daerah lintas komunitas, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh lokal.
 
Banyak sih yang dari dunia usaha juga yang kita datengin, karena isu yang sekarang mulai berkembang gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja). Terus, kita pengen dengar apa harapan dunia usaha ke depan. Kebijakan apa yang bisa membantu mereka. Jadi, dibarengi dengan kerja sosial. Jadi, senang aja, sekaligus silaturahim. 
 
Jadi, resmi mau jadi calon gubernur, karena memang diminta Prabowo Subianto (Ketua Umum DPP Partai Gerindra)?
 
Jadi, sebetulnya diminta sama pimpinan, sama Pak Prabowo dan Gerindra. Terus, melalui tahapan awal. Baru akhir Januari, saya diundang untuk penjaringan. Saya lihat kontraknya, apa sih yang mesti dilakukan. Ternyata, kontraknya melakukan kegiatan sosial. Wah, itu kan saya senang.
 
Kita bukan meminta sesuatu dari warga, tetapi justru tawarkan solusi, gagasan, mendengarkan aspirasi. Jadi, ini memang suara dari rakyat harus kita kumpulkan aspirasinya dan bagaimana kita memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang ada di warga sekarang ini.
 
Kalau dibanding kader lain di Gerindra, relatif baru?
 
Baru banget.
 
Pernah bertanya mengapa Anda yang dipilih, toh masih ada kader lebih senior?
 
Saya tanya juga, why me and don’t give this tough job, karena saya relatif baru dan awam di politik. Kalau boleh dibilang kan, saya pengusaha. Terus, Pak Prabowo bilang, “saya punya insting politik. Insting politik saya, biasanya benar. Insting politik saya minta. Salah satu insting politiknya (Prabowo) yang benar itu adalah 2012 mendukung Pak Jokowi (Joko Widodo) dan Gubernur Basuki sekarang. Saya melihat bahwa kamu tuh cocok. Bawa angin segar di Jakarta, meneruskan pembangunan ke arah yang lebih baik.”
 
Kan, katanya bisa dekat dengan kaum muda di Jakarta, demografinya tuh bisa dibilang 18-35 ya. Dan, generasi di X dan Y ini yang akan membentuk suatu opini yang sangat-sangat nyaring Jakarta mau dibawa ke mana.
 
Insting Prabowo itu meleset di Pemilu 2014, bagaimana?
 
Instingnya Pak Prabowo, nah dia juga sampaikan itu. Kadang-kadang benar, tetapi kadang salah. Salah instingnya, salah satunya adalah dia hitungan politiknya kadang enggak tepat. Memiliki insting bahwa tetap akan bersama dengan PDIP, atau Jokowi, tetapi dia bilang itu adalah politik. Tujuan politik itu adalah menawarkan suatu yang lebih baik buat rakyat Indonesia. Yang penting niatnya. 
 
Kalau niatnya tulus, ikhlas, dan mendorong, agar kita bisa berpolitik dengan suatu nuansa yang baru. Itu yang dia dorong. Tetapi, dia sebutkan juga persis bahwa dia kadang-kadang salah juga. Saya belum komentar dia sudah ngomong. Tetapi, tanpa emosi sama sekali, dia sampaikan dengan sangat serius, waktu kita bicara berdua empat mata. Enggak ada rasa kecewa Beliau bahwa sekarang Jakarta itu kan posisinya Gerindra. Gubernur Basuki kan meninggalkan Gerindra. Jadi, enggak ada sama sekali penyesalan. Ya itu adalah konsekuensi daripada politik.
 
Bertemu Prabowo di Hambalang saat itu?
 
Sekali ketemu di Jakarta, dua kali ketemu di Hambalang. Itu yang santai.
 
Anda sempat masuk Partai Demokrat dulu, atau hanya simpatisan?
 
Saya enggak pernah di politik sebelumnya. 
 
Jadi, soal dulu sempat mau maju jadi calon bendahara umum Partai Demokrat?
 
Dulu sempat ada pembicaraan awal-awal, tetapi enggak pernah terealisasi.
 
Berarti tak punya KTA (kartu tanda anggota) Demokrat?
 
Enggak punya. Saya pertama kali masuk politik ini Gerindra. Enggak sama sekali (punya KTA). Saya hubungan baik dengan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), dengan mas Anas (Anas Urbaningrum) juga. Tetapi, enggak pernah menjadi anggota Demokrat, atau pengurus.
 
Tapi benar tidak, waktu Kabinet Indonesia Bersatu II pernah ditawarkan menjadi menteri?
 
Secara langsung enggak ada yang 2009 ya. Secara langsung memang enggak pernah ada pembicaraan itu. Saya memang mendukung Pak SBY waktu 2009, tetapi murni enggak pernah ada keinginan atau dorongan. Namanya banyak disebut-sebut media, tteapi waktu itu saya dukung tanpa pamrih. Waktu itu, Pak SBY sangat memperhatikan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) dan itu yang menjadi suatu hal yang saya passionate (bernafsu) sekali. Saya punya passion dalam pengembangan UMKM dan kewirausahaan.
 
Kebetulan beberapa ide-ide saya seperti KUR (kredit usaha rakyat), akses terhadap pelatihan dan training UMKM diadopsi oleh zaman Pak SBY di Kementerian UMKM dan di perbankan. Jadi, saya banyak interaksi saat itu tapi enggak pernah ada pembicaraan masuk di kabinet.
 
****
 
Sepertinya program pemberdayaan UMKM oleh pemerintah agak berkurang, termasuk tak terlalu terlihat di 10 Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi. Anda setuju? 
 
Itu yang saya sempat bicara sama teman-teman di Kementerian UMKM. Napasnya itu harus bahwa 10 paket ini enggak boleh justru meninggalkan ekonomi akar rumput, karena 57 juta unit UMKM ini sebenarnya tumbuh praktis tanpa keberpihakan pemerintah. Jadi, saya selalu bilang bahwa kita punya tugas.
 
Di Kadin ditugasi UMKM juga dan kita bilang akhirnya yang menjadi bantalan daripada ekonomi kita UMKM. Begitu ada perlambatan, siapa yang menyerap lapangan pekerjaan, UMKM. Siapa yang terus menggerakkan ekonomi, UMKM. Pun mereka relatif masih susah mendapatkan kredit yang aksesibilitas yang tinggi.
 
Gambaran UMKM Jakarta sendiri sudah memetakan? 
 
Kalau dari sektor maupun dari permasalahan, kendala, peluangnya di mana sudah terpetakan. Dan, dua isu yang saya hadapi di Jakarta begitu menyapa warga, ini sudah hari ke 38 saya silaturahim, tetap masalah ekonomi yang berkaitan dengan kesejahteraan, khususnya ketersediaan lapangan kerja, harga-harga yang melambung tinggi. Ganti-gantian saja. Kalau enggak bawang merah, cabai, daging sapi, ayam. Nah, ini yang dirasakan perlu terobosan. Mungkin perlu sesuatu yang berbalut teknologi menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi dalam keseharian kita menghadapi biaya-biaya yang makin tinggi.
 
Maksudnya teknologi, semacam software standar resmi harga dari pemerintah?
 
Justru terobosan ini saya ingin partisipatif. Pemerintah itu hanya fasilitator. Pemerintah tak bisa masuk ke ranah swasta intervensi. Apalagi, memang ada tempatnya untuk berpartisipasi dalam pembentukan harga ini. Tapi kalau pemerintah semuanya yang drive, enggak akan mampu. Kita harus kolaborasi dengan dunia usaha, komunitas, dengan masyarakat bagaimana caranya kewirausahan bisa diciptakan dengan menciptakan lapangan kerja.
 
Tadi Kaskus cerita, dari 28 juta unit visitor, atau user di Kaskus, di balik itu kegiatan ekonominya ada banyak sekali. Ada 300 forum ada 20 ribu komunitas dan semua selain dari interaksi sosial, mereka juga ada interaksi ekonominya.
 
Dan, di situ terlihat penciptaan lapangan kerjanya. Gojek 150 ribu lapangan pekerjaan yang diciptakan. Buka Lapak ada 500 ribu UMKM yang tertampung di sana. Jadi, menurut saya, solusi-solusinya pemerintah hanya bisa memfasilitasi. Sementara, kalau pemain-pemain intinya harus dibalikkan pada dunia usaha. 
 
Awal dukung SBY, tetapi enggak masuk Partai Demokrat, namun memilih Gerindra. Lebih merasa pas dengan Prabowo? 
 
Enggak, karena Prabowo yang ngajak aja. Jadi, diskusi tentang partai itu terjadi setelah Pemilihan Presiden 2014. Awalnya cuma pembicaraan yang santai, tetapi jadi serius mendekati kongres luar biasa di Gerindra, setelah ketua umumnya wafat, bentuk kepengurusan baru dia bilang mengajak untuk bergabung. Saya bilang Bapak saja, saya dukung Bapak. 
 
Sampai kapan mau jadi pengusaha? Saya bilang, selama saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan roda perekonomian, bayar pajak juga tugasnya bagi-bagi Pak. "Beda Dik, kalau di politik itu adalah tugas kita untuk kontribusi pada negara yang berdampak pada jutaan mungkin puluhan juta, karena dekat dengan pengambil kebijakan khususnya kebijakan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Kalau kamu di dunia usaha, paling yang tersentuh 50 ribu karyawan di bawah grup, atau mungkin wirausaha yang kita datangi, atau mahasiswa yang kita beri motivasi. Tetapi, kalau politik itu betul-betul menyentuh kebijakan dan kebijakan itu berdampak pada begitu banyak rakyat Indonesia. Jadi, sampai kapan masih mau memperkaya diri sendiri. Berilah kontribusi. Kamu sudah dapat begitu banyak dari Indonesia, dari kesuksesan ini kamu dapat dari Indonesia. Sampai kapan?”
 
Ya tersentuh juga akhirnya. Dan, saya punya senjata pamungkas saya minta izin keluarga dululah.
 
Tapi bukan karena Demokrat tidak pernah mengajak kan?
 
Waktu mengajak saya belum siap. Nomor dua izin dari keluarga juga enggak keluar. Saya tanya sama ibu saya besoknya, datang pagi-pagi. Ibu saya langsung nanya kenapa datang pagi-pagi, ini bicara gabung Partai Gerindra, kok tahu, ya Pak Prabowo sudah telepon saya katanya. Jadi, dia sudah duluan melobi dan sudah tahu kuncinya dan diberi restu pada saat itu dan istri juga mendukung.
 
Awalnya janjiannya untuk khusus di partai, saya di bidang ekonomi, saya enggak mencalonkan apa-apa, dan saya melakukan transisi dari dunia usaha. Karena saya lihat ada benturan kepentingan, karena itu saya mundur dari semua posisi di korporasi. Tetapi baru akhir tahun itu ajakan mempertimbangkan DKI dan mempertimbangkan apa yang bisa disumbangsihkan pada DKI
 
Masuk parpol berarti harus optimistis dengan parpol, padahal saat ini kepercayaan terhadap parpol seperti tergerus, Bagaimana menurut Anda?
 
Dan, ini justru sinyal pada parpol untuk berbenah. Dan, ini berarti ada fungsi parpol yang enggak dijalankan. Berarti parpol enggak dekat dengan rakyat, parpol enggak bisa merepresentasikan suara rakyat. Padahal, di tiap demokrasi manapun ujung tombaknya partai politik mau di Amerika manapun juga representasi dari rakyat ada di pemerintahan melalui representasinya di parpol. 
 
Jadi, Ini merupakan suatu swing yang saya rasa perlu dicermati bagaimana parpol harus lebih dekat sama rakyat, harus bisa mendengar keinginan rakyat, dan ini sinyal yang sangat kuat. Saya terpanggil, karena sistem yang kita pilih adalah demokrasi. Karena itu, saya putuskan berjuang melalui jalur parpol.
 
TERKAIT
TUTUP