TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Adhyaksa Dault: Saya Enggak Mau Ngemis ke Partai
Saya harapkan, lahir seorang pemimpin, bukan penguasa.

VIVA.co.id – Adhyaksa Dault masuk bursa sosok yang dikabarkan akan maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun depan. Nama mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini muncul, setelah sejumlah tokoh mendaulat dia untuk maju dalam pesta demokrasi di Ibu Kota tersebut.

Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 7 Juni 1963 ini mengatakan, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang sempat menemuinya.

Menurut Adhyaksa, mereka meminta dirinya untuk ikut berlaga dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Akhirnya, dengan semangat ingin membenahi Jakarta, mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ini bersedia maju.

Namun, sampai saat ini belum ada partai politik (parpol) yang meminangnya. Di sisi lain, ia juga enggan untuk mendaftar dan mengikuti seleksi bakal calon gubernur DKI di parpol. Sementara itu, KTP dukungan yang dikumpulkan relawannya belum cukup untuk mendaftar melalui jalur perseorangan.

Meski demikian, orang nomor satu di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini mengaku tak ambil pusing. Kepada VIVA.co.id, ia menuturkan, alih-alih sibuk road show ke pasar, atau safari ke parpol guna mencari dukungan, dia malah sibuk menyiapkan Jambore Nasional Pramuka X yang akan dihelat Agustus mendatang. Demikian petikan wawancara yang dilakukan di Gedung Kwarnas, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Anda serius kan maju dalam Pilkada?

Serius. Tetapi, saya tak mau daftar ke partai. Mohon maaf. Memang, di negara demokrasi harus melalui partai. Tetapi, saya enggak mau, datang ngemis-ngemis, mencari jabatan.

Artinya, meski berniat maju dalam Pilkada, sampai saat ini Anda tidak mendaftar ke partai?

Sama sekali saya tidak mendaftar. Tidak ada nama saya dipartai.

Kenapa?

Kekuasan itu enggak diminta-minta. Saya jadi menteri lima tahun tanpa meminta.

Lalu, kenapa Anda tertarik untuk maju dalam Pilkada?

Karena kita butuh pemimpin, bukan penguasa.

Apa bedanya?

Kalau penguasa bisa melakukan apa saja, tidak ada konsultasi, tidak ada komunikasi. Bisa semaunya menggusur orang tanpa komunikasi, atau diskusi sama sekali. Itu penguasa.

Maksud Anda Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)?

Dengan segala hormat menurut saya, pak Ahok ini masih menjadi penguasa, tapi belum sebagai pemimpin. Ahok ini tipikalnya penguasa, bukan pemimpin, atau leader.

Karena?

Kalau seorang pemimpin itu kerja Supertim bukan Superman.

Memang, apa yang akan Anda lakukan jika jadi Gubernur DKI Jakarta?

Kalau saya jadi gubernur Jakarta, saya akan menciptakan masyarakat yang nasionalis, religius, bukan kapitalis sekuler.

Apa yang membedakan antara Anda dengan kandidat yang lain?

Yang membedakan ada tiga hal. Pertama, motivasinya. Kedua, cara mendapatkan. Dan, yang ketiga, dia amanah atau tidak saat menjabat.

Lalu, apa motivasi Anda?

Motivasi saya adalah, saya dari umur empat tahun sudah di Jakarta. Saya tahu perkembangan Jakarta. Sampai saya menjadi ketua KNPI Jakarta. Saya puluhan tahun gak pernah pulang ke kampung saya karena ingin jadi bagian dari Jakarta. Itu yang membuat saya tertarik untuk ikut.

Namun, kalau memang tidak ada partai yang melamar saya, sementara pola rekrutmen sistem kepemimpinan harus melalui partai, ya sudah. Toh, itu bukan tujuan saya. Orientasi saya pada proses, bukan hasil.

Kan, ada peluang lewat jalur perseorangan?

Saya sudah berusaha, tetapi KTP dukungan sampai saat ini belum cukup.

Kabarnya, Anda beberapa waktu lalu sempat bertemu sejumlah petinggi partai?

Iya. Tapi sampai saat ini belum ada partai yang melamar saya secara resmi.

Artinya, Anda tidak mendaftar, tetapi komunikasi politik dengan partai tetap jalan?

Oh iya jelas. 

Selanjutnya, bagaimana peluang Ahok...?

TERKAIT
TUTUP