TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
'Saya Siap Lawan Ahok di Pilkada Jakarta'
PDIP mendidiknya untuk tidak takut terhadap tantangan apapun.

VIVA.co.id - Djarot Saiful Hidayat, tokoh kelahiran Magelang, 30 Oktober 1955, kini mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Djarot menjabat posisi itu sejak 17 Desember 2014.

Meskipun strategis, karena menjadi orang kedua di Ibu Kota negara, ternyata jabatan Wagub DKI bukan cita-citanya secara langsung. Awalnya, Djarot tak memimpikannya.

Apa sebenarnya impiannya? Viva.co.id berkesempatan mendengarkan langsung dari anak tentara ini, saat wawancara khusus beberapa waktu yang lalu.

Tak hanya itu, Djarot juga berbagi cerita tentang perjuangan saat ia mahasiswa, ketika dua organisasi ekstra legendaris di Indonesia seperti HMI dan GMNI sempat membuatnya berada di persimpangan jalan.

Kehidupan menjadi aktivis mahasiswa membawanya pada sikap oposisi terhadap rezim militeristik Orde Baru. Sampai kemudian, sebuah nazar pun terlontar, “Tak akan menikah sebelum Soeharto jatuh”.

Pengalaman-pengalaman inilah, tentunya juga dari keluarga, sampai beranjak dewasa, dan saat mahasiswa turut membentuk karakter kepemimpinannya.

Sebelum menjadi Wagub, Djarot tercatat pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (1999-2000), Wali Kota Blitar dua periode, sejak 2000-2010, dan anggota DPR 2014-2019.

Sekarang, zaman menghadapkan Djarot pada situasi jelang Pilkada Jakarta 2017. Bagaimana pun, ia masuk menjadi salah satu kandidat yang diperhitungkan. Setidaknya, dari partainya sendiri, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Bagaimana jika PDIP, akhirnya memutuskan untuk mengusungnya? Sementara, lawannya adalah sang kolega, Basuki Tjahja Purnama, alias Ahok, yang sejauh ini menegaskan akan maju melalui jalur independen, atau perseorangan.

Berikut, adalah hasil lengkap wawancara khusus viva.co.id dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat:

Sudah berapa lama menjabat Wagub?

Sudah hampir satu tahun setengah.

Bagaimana rasanya? Apakah enjoy, atau ada beban?

Enjoy aja, tinggal menyesuaikan bagaimana ritme kerja. Bertanggung jawab, berbagi peran, untuk mendukung berbagai macam kebijakan-kebijakan di Pemprov, di sini. Jadi, biasa saja, enjoy tidak masalah. Termasuk, lebih banyak mewakili Pak Gubernur, jika dia tidak bisa menghadiri suatu acara. Tugas saya lebih banyak turun ke bawah.

Selama menjalankan tugas, ada pengalaman yang paling disukai?

Kalau disukai, ya kita ketemu masyarakat, apalagi mereka yang membutuhkan uluran tangan pemerintah. Di rusunawa, perkampungan-perkampungan kumuh, bisa mendengar mereka, menangkap aspirasi keluh kesah mereka, itu bahan masukan kita untuk dibuat suatu kebijakan.

Keluhan yang membuat Anda benar-benar ingin menyelesaikan persoalan itu apa?

Contoh misalnya kemarin, kita luncurkan program kredit murah untuk kaki lima dari Bank DKI. Kita berharap, pedagang kaki lima kita bisa mendapat pinjaman tanpa agunan dengan bunga di bawah sembilan persen. Kita berusaha, pedagang kecil itu tidak terjerat rentenir. Sekarang, sektor informal di Jakarta itu luar biasa. Itulah sebetulnya, salah satu penopang perekonomian masyarakat Jakarta.

Kemudian, misalnya beasiswa. Anak-anak miskin itu belum tentu tidak pandai, karena tidak ada biaya dan kesempatan, mereka enggak bisa melanjutkan sekolah. Untuk itu, kita sediakan beasiswa, terutama bagi mereka pemegang KJP (Kartu Jakarta Pintar). Tahun ini, kita alokasikan Rp32 miliar untuk beasiswa ke perguruan tinggi.

Kemudian, pasar bagaimana agar terjaga, tidak kumuh, tidak bau, tidak panas. Karena, bagaimana pun pasar tradisional itu adalah budaya, pembeli tidak berhadapan dengan label harga, ada komunikasi, tawar menawaar. Masuk di situ, bagi saya pribadi itu kepuasan batin.

Kemudian, masuk ke sungai-sungai, Ciliwung, Condet, ketemu masyarakat di sana, di sana ada aktivis-aktivis NGO yang bergerak. Saya sampaikan, mari kita bareng-bareng satu agenda aksi, misal merevitalisasi kali Ciliwung. Kemarin luar batang, saya enggak marah-marah di sana, saya ngobrol pada mereka. Its okay, di situ banyak tenda, kita sudah sediakan rusun. Dia mintanya dekat sana, bukan di Rawa Bebek, oke kita siapkan. Tetapi, saya minta mereka di tenda pindah dong.

Termasuk begini, ketika ada kebakaran, pertama itu saya membayangkan orang panik, histeris, tetapi mereka tenang-tenang saja. Saya tanya, kenapa tenang-tenang saja, karena yang terbakar memang tidak ada apa-apanya, tidak ada sertifikat, barang mewah, sudah terbiasa mereka, tenang mereka. Besoknya, habis kebakaran saya datang rontok semua, mereka bersihkan, kemudian bangun lagi. Semakin malam yang mengungsi semakin banyak, kan itu deket Taman Sari. Semakin malam saya lihat, yang keluar itu semakin cantik-cantik malahan, kenapa, karena mereka kos, kerjanya dekat situ.

Menjadi wagub itu bagian dari cita-cita, atau tidak?

Sebetulnya secara spesifik sih enggak. Cita-cita saya itu yang ditanamkan ya, kita harus bisa memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Kalau menjadi wagub memberi manfaat bagi banyak orang, Alhamdulillah. Bukan jabatannya sebetulnya. Juga jadi wali kota 10 tahun, bisa memberi manfaat orang lain, membahagiakan orang lain, itu saja sebenarnya.

Jadi, cita-citanya bukan di jabatan, tetapi bagaimana kita diberikan hidup bisa memberi manfaat. Semakin kita banyak memberi manfaat, itu semakin kita suka. Seakan kita menghadapi banyak tantangan, semakin kita suka, karena hidup itu penuh perjuangan. Entah sebagai gubernur, wagub. Bukan seberapa tinggi jabatan kita, tetapi seberapa besar manfaat yang diterima orang lain pada diri kita.

Berikutnya, orangtua dulu mendorong Anda jadi apa...

TERKAIT
TUTUP