TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Bangun Swasembada Migas untuk Ketahanan Energi
Sejak Oktober 2015, pemerintah telah dua kali menurunkan harga BBM.

VIVA.co.id –  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengubah sistem penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi tiga bulan sekali. Pemerintah menyatakan, kebijakan ini dilakukan demi menjaga kestabilan sosial ekonomi, pengelolaan harga dan logistik, serta menjamin penyediaan BBM nasional.

Sejak Oktober 2015, pemerintah telah dua kali menurunkan harga BBM Premium dan Solar, yakni pada Januari dan April 2016. Untuk periode Juli 2016, harga BBM dipertahankan tetap, dan Kementerian ESDM menyatakan, harga BBM tidak akan berubah sampai September nanti. 
Sementara itu, impor minyak dan BBM yang tinggi mencapai 300 juta barel per tahun menyebabkan harga BBM dalam negeri berfluktuatif bergantung pada harga minyak mentah dunia. Apalagi, beban subsidi solar yang sangat tinggi, sehingga membebani anggaran pemerintah. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja kepada VIVA.co.id, belum lama ini membeberkan alasan pemerintah menetapkan sistem penyesuaian harga BBM setiap tiga bulan, peta jalan penghapusan subsidi BBM, serta peta jalan kebijakan migas di hulu dan hilir untuk mewujudkan ketahanan energi nasional.

Berikut, petikan wawancaranya:

Mengapa penetapan harga BBM dilakukan setiap tiga bulan?

Karena, kita punya kebijakan tidak harga harian atau mingguan, tetapi per tiga bulan. Jadi, kita buat rata-rata selama tiga bulan, harga ini bisa naik dan turun.

Kalau kita menggunakan hitungan mingguan seperti Malaysia, bisa saja kalau harganya per hari, atau minggu berada di bawah. Sedangkan harga rata-rata per tiga bulan lebih tinggi, atau sebaliknya harga rata-rata per tiga bulan lebih rendah saat harga minyak harian naik.

Perbedaannya kita ambil per tiga bulan, bukan tiap harinya. Setelah kami sudah melakukan studi pada 2015, ketika setiap bulan harga minyak naik atau turun, secara politik timbul banyak komentar. Karena, saat harga BBM turun, harga barang tidak ikut turun. 

Ada yang menilai harga Premium Indonesia lebih mahal dari harga BBM Malaysia, apakah benar demikian?

Jadi, perhitungan harga BBM berdasarkan referensi dari Mean of Platts Singapore/MOPS (harga rata-rata BBM di Singapura), biaya distribusi, biaya pajak-pajak, dan lain sebagainya. Inilah harga yang kami tetapkan berdasarkan rata-rata tiga bulan sebelumnya. 

Jadi, kita tidak bisa dibandingkan per harga hari ini, harusnya rata-rata per tiga bulan sebelumnya. Kalau dilihat per hari, kadang-kadang harga Malaysia lebih tinggi, kadang-kadang lebih rendah, karena mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. 

Kalau penghitungan secara rata-rata per tiga bulan, sebenarnya harga BBM Indonesia kita lebih murah dari pada Malaysia, yang mengikuti perubahan harga minyak dunia tiap minggu.

Rezim kita average (rata-rata), karenanya kita jauh lebih murah dari Malaysia. Harga BBM kita lebih murah dari mereka, kecuali Brunai Darussalam. Vietnam, Laos, Malaysia, harga mereka lebih tinggi dari kita per tiga bulan.

Sekarang, harga minyak mengalami tren kenaikan dan sudah menyentuh US$50 per barel. Apakah ada kemungkinan tiga bulan ke depan harga BBM akan naik? 

Periodenya harga BBM saat ini sampai akhir Juni. April, Mei, Juni. Periode berikutnya Juli, Agustus, September. Kami sudah melakukan kalkulasi karena ada Lebaran, Insya Allah untuk enam bulan ke depan tidak ada kenaikan. 

Rata-rata harga kemarin, agak ada kenaikan sedikit. Jadi, bulan Juli nanti ada keputusan baru. Insya Allah tidak ada kenaikan sampai September, tiga bulan berikutnya.

Berdasarkan proyeksi pemerintah berapa harga minyak mentah dunia ke depannya, apakah akan terus naik atau kembali turun? 

Kalau kami lihat, proyeksi dari lembaga-lembaga kredibel di dunia. Memang, saat ini harga minyak dunia akan naik turun terus, akan stabil di angka US$50 sampai US$60 per barel. Itu tren globalnya sampai akhir 2017. 

Kalau asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harga minyak mentah ditetapkan di harga berapa?

Kalau berdasarkan APBN, saat ini kita proyeksi US$35-US$40 per barel. Harga ICP (minyak mentah Indonesia) di bawah minyak mentah Eropa, Brent, yang sekarang US$50 per barel.

Insya Allah, proyeksinya hingga September, fluktuasi harganya masih sesuai dengan perhitungan.

Premium dengan harga sekarang Rp6.450 per liter sudah tidak disubsidi pemerintah. Bahkan, harga Premium masih dijual lebih tinggi dari harga keekonomiannya, berapa keuntungan yang diperoleh pemerintah? Dana keuntungannya akan dimanfaatkan untuk apa? 

Premium sudah tidak disubsidi, hanya distabilkan harganya. Pemerintah menetapkan. Kita enggak bilang keuntungan ya, ini selisih positif. 

Selisih positifnya terhitung dari April, Mei, Juni. Harga minyak kan fluktuatif. Selisihnya sekitar Rp500 sampai Rp1.000 per liter. Selisih positif ini, kita harapkan bisa menutupi kalau ada selisih negatif ke depan. 

Kita melakukan perhitungan hingga September. Di akhir tahun nanti, kita secara transparan minta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit kelebihan dan kekurangan. 

Misalkan harga Premium sekarang harga Rp6.450, harga referensi (keekonomian) Rp6.000. Ada beda Rp400 itu adalah positif. Keuntungan ini, nanti semua terakumulasi di Pertamina (PT Pertamina persero). 

Bila harga riilnya di atas dari harga yang kita jual, berarti ada selisih negatif. Seperti tahun lalu, negatifnya banyak mendekati sekitar Rp13 triliun. Nah, keuntungan dari harga jual itu kita gunakan untuk stabilisasi harga per tahun. 

Kementerian ESDM mengusulkan penghapusan subsidi Solar, tetapi hingga kini belum ada persetujuan dari Presiden dan DPR. Apakah usulan ini akan terus digulirkan?

Kami memang memiliki roadmap (peta jalan) besar. Inginnya rezim subsidi tidak ada lagi, seiring dengan penguatan perekonomian. Kami mengusulkan, bagaimana kalau subsidi ini secara bertahap dikurangi. 

Kami melakukan berbagai kajian. Misalnya bila subsidi solar Rp1.000 dihapuskan, dampaknya seperti apa sampai setahun, dua tahun, hingga tiga tahun. Kalau subsidinya masih Rp600, Rp500, seperti apa? Kalau subsidi Rp350, kayak apa?

Kami melaporkan ke komisi VII DPR kajian-kajian kami, dan pak menteri (menteri ESDM) akan melaporkan ke Presiden. Kajian itu kami lakukan secara detail sekali. Nanti, mana yang diambil, tentunya pimpinan punya wawasan yang lebih luas.

Selanjutnya>>>

TERKAIT
TUTUP