TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Menuju Misi Smart City Kelas Dunia
Saat ini Qlue memiliki 500 ribu pengguna dengan 40 ribu posting.

VIVA.co.id – Ibu Kota Jakarta dikenal punya segudang masalah perkotaan. Mulai dari sampah, banjir sampai kemacetan, tak berhenti jadi perbincangan sampai keluhan warga.

Sementara di satu sisi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menjalani langkah untuk mengubah wajah Ibu Kota menjadi smart city atau kota pintar.

Sebagai bagian untuk mendukung smart city Jakarta tersebut, Pemprov telah menggandeng aplikasi keluhan yang bernama Qlue. Tak butuh waktu lama, Qlue langsung banyak digunakan warga DKI untuk menyampaikan keluhan dan gagasannya.

Bak banjir bah, keluhan yang muncul melalui platform aplikasi ini deras dan kini populer bagi warga DKI.

Data Qlue menunjukkan sepanjang Januari-Mei 2016 ada puluhan ribu laporan. Secara total jumlah pelanggaran yang dilaporkan sebanyak 29.363 laporan; Sampah sebanyak 27.404 laporan; Parkir Liar sebanyak 18.855 laporan; Fasilitas Umum sebanyak 18.577 laporan; Kemacetan 12.963 laporan.

Kehadiran Qlue disambut baik oleh Pemprov DKI Jakarta bahkan telah dimanfaatkan oleh 100 persen kelurahan di DKI Jakarta atau 268 kelurahan termasuk Kepulauan Seribu.

Sejauh ini Qlue telah memiliki pengguna sebanyak 500.000 dengan 40.000 posting rata-rata per hari dan 80 persen di antaranya telah direspons oleh Pemprov Jakarta.

Kami mewawancarai Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Qlue, Rama Aditya beberapa waktu lalu. Dalam tatap muka tersebut, Rama berharap Qlue bisa dipakai instansi pemerintah di Indonesia dan pemerintah daerah. Bukan tanpa alasan, dia ingin platform yang ia hadirkan bisa benar-benar menjadi manfaat, terutama dalam mendukung smart city.

Rama mengaku bergerak sosial dalam mempromosikan Qlue. Dia tidak mengenakan biaya layanan alias gratis bagi instansi pemerintah maupun swasta yang memakai Qlue. Berikut kutipan wawancara kami di Kantor Qlue, di kawasan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan jelang senja pada bulan puasa lalu.

Aplikasi Qlue kini menjadi tren warga khususnya di DKI Jakarta. Inspirasinya dari mana?

Inspirasinya dari Indonesia sendiri yang banyak masalah, dan cocok lah untuk orang Indonesia. Aplikasi yang bisa nampung seluruh complain yang bisa ditindaklanjuti. Jakarta sebenarnya hanyalah salah satu partner kita saja.

Merealisasikan aplikasi ini agar makin banyak yang pakai, kita ada partner selain goverment, ada private sector, industri energi, banking dan lain lain yang sifatnya dilaporin warga.

Kita memang mimpi besarnya adalah smart city secara global yang di mana membutuhkan beberapa pihak bukan hanya pemerintahnya tapi juga orang-orangnya ya.

Dari awal untuk tampung keluhan warga?

Sebenarnya enggak ya. Awalnya itu cuma photo sharing berdasarkan lokasi, cuma yang kita lihat, karena kita bikin banyak label-label (jenis keluhan), itu membuat orang terarah untuk cenderung melaporkan kemacetan dan lain-lain dan akhirnya kita ke sana.

Ini lebih baik dibanding sebuah aplikasi yang ngambang tidak tahu orang bagaimana menggunakannya. Paling fokus difokusin pada satu, akhirnya kita fokus pada laporan masyarakat.

Pelaporan warga ini sudah berapa bulan dari munculnya aplikasi?

Awalnya Oktober 2014 ini yang Android, udah lumayan banyak dan mitra kita hampir 500 ribu dan laporan aktif sehari 40 ribu.

Qlue diintegrasikan dengan smart city DKI, proses berjalannya laporan sampai tindaklanjut bagaimana?

Jadi integrasinya cukup simpel, orang lapor lalu nge-set lokasinya dan labelnya apa. Kalau orang lapor di Kalibata misalnya, akan dicek lagi Lurah Kalibata, labelnya apa misalnya kemacetan, pasti akan dinotifikasi sama Lurah. Jakarta kan ada aplikasi yang namanya CROP (Cepat Respon Opini Publik), ini yang bisa menindaklanjuti laporan warga langsung. Dia bisa menghijaukan laporan, kita juga bisa melihat before dan after picture.

Kerja sama dengan DKI itu sih menurut Perjanjian Kerja Sama-nya sejak 2015.

Evaluasinya?

Responsnya sudah cukup bagus, banyak laporin sudah membawa perubahan. Saya harap Ahok (Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama) lihat ini bagus. Yang diharapkan bagaimana caranya ini berjalan dengan baik. Dan bagaimana data yang kita kasih ke DKI bisa diolah dengan baik oleh mereka.

Keluhan yang masuk puluhan ribu. Jenis yang sering ditindaklanjuti?

Sampah pastinya. Bagi petugas oranye itu untuk menindaklanjuti, saya apresiasi adanya Pekerja Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) itu ya. Saya melihat ini bagian penting dari Jakarta dan cepat menindaklanjuti laporan warga.

Kalau enggak ada mereka itu enggak tahu bagaimana. Mungkin lurahnya lari-lari nyapu, mereka sangat itu berguna.

Ada yang bilang aplikasi keluhan ini pertama di Indonesia, tanggapan Anda?

Indonesia sudah ada aplikasi keluhan, yaitu lapor.go.id sebelumnya. Di negara lain juga sudah ada, tapi yang berbeda dari Qlue ini adalah kita aplikasi yang membawa perubahan melalui smart city solution. Jadi kita bangun aplikasi itu untuk solusi end to end, didukung dengan dashboard dan analitik. Dari aplikasi itu sendiri, kenapa di dunia (aplikasi yang sejenis) hanya ribuan, tapi kita 500 ribuan, kan aneh kan.

Karena kita memang mengadopsi sosial media, jadinya makin banyak lapor makin banyak poin dan avatar. Tapi kita buat bagaimana laporan itu tetap valid dan reliabel. Dan karena dengan adanya itu kami gunakan Qlue, kan (Qlue) sifatnya juga sosial media kan, bisa nge-tag, share, favorit, chat, jadi mereka kayak punya dunia virtual baru dalam aplikasi.

Soal privasi data pengguna bagaimana?

Data pengguna benar disimpan dan juga kalau saya lihat, apa saja datanya username, log in sosial media datanya di mereka (Google, Facebook). Kita yang punya paling sosial media dan nomor telepon dan email, tapi kan itu opsional.

Lantas, data pengguna itu diberikan ke Pemprov?

Hahaha. Data itu kan informasi yang sangat privat dan enggak perlu dikasih ke Pemprov, juga mereka sudah tahu (datanya). Buat apa punya data gituan. Dan mereka (Pemprov) lebih punya banyak data dibanding data dari kita.

Soal servernya?

Servernya pasti disimpan di Indonesia, itu kan juga dilempar ke Pemprov. Kalau di Jakarta ya di Jakarta. Kalau laporan perbankan juga disimpan di server perbankan itu.

Qlue sudah mulai ekspansi ke kota lain di Indonesia. Catatan kami akan sudah jajaki dengan 8 kota?

Sebenarnya enggak delapan kota juga enggak. Kita kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi, misalnya Indosat dan pemerintah kota untuk dorong smart city. Ada potensi, ada yang masih trial seperti Manado, Pekan Baru. Ada beberapa lah kota besar yang lagi jalan.

Impian smart city dari Qlue itu bagaimana?

Smart city itu pada akhirnya kan people ya. Bagaimana kita bisa aware, well educated, selalu support dengan apa yang terjadi, berkontribusi ke kota. Dengan adanya Qlue diharapkan bukan hanya sadar melihat sampah dan melapor, tapi bagaimana juga gunakan aplikasi ini untuk melapor dan menciptakan kesadaran

Itu sih intinya. Makanya kita punyae tagline Berani Berubah. Yang penting itu people itunya diubah dulu. Percuma kalau Ahok tiap hari teriak atau kepala daerahnya teriak, tapi orangnya tak mau berubah ya percuma.

Kepada daerah lain yang melakukan campaign, makanya Jokowi itu revolusi mental. Itu inline dengan kampanye beliau.

Bagaimana nanti gambaran Qlue di kota kedua yang berbeda dengan kultur kota besar. Wujudnya seperti apa?

Sama saja sih. cuma tidak semua kepala daerahnya sama, beda dan visinya smart city-nya beda. Ada yang fokus ke kemacetan, polusi udara, ada yang fokus ke yang lainnya.

Kita harus selalu menyesuaikan dengan karakter dan masalah kota itu. Sebagai contohnya, kita lagi masuk nih ke kota di luar negeri, mereka minta lebih ke laporannya bisa masuk ke mereka dulu baru verifikasi, disaring baru di-publish. Cuma kalau gitu, ya warga disaring dulu ya, warga marah-marah kan.

Saya pikir bisa, tapi mungkin bisa omongkan, ada beberapa hal hal laporan di Manado, dia tak ada joki three in one, dia kan enggak ada kemacetan yang parah, di sana fokusnya hal yang lain. Kebutuhan di Manado beda, konten bisa di jaga. Orang di Pekan Baru konten di situ juga, kontrol dari sistem, jadi enggak perlu ngasih waktu panjang.

Kota di luar itu?

Kerja sama dengan partner di Malaysia, harapan saya bisa deketin India. Kita deket Malaysia, ada juga Filipina melalui partner, ke Thailand dan ngomong dengan Singapura juga.

Bentuk kerja sama dengan mitra di luar negeri itu bagaimana?

Sama saja. Sejauh ini di luar masih ada partner perusahaan telekomunikasi. Ada yang deket dengan perusahaan teknologi gede. Mereka kadang punya solusi yang banyak tapi enggak bisa mengintegrasikan solusi banyak mereka itu.

Qlue kan sudah punya dasboard yang ada kayak di command center, itu lah yang plan integrator untuk kota pintar, CCTV, itulah yang integrator. Ada perusahaan besar yang tertarik diintegrasikan dengan Qlue.  

Integrasi dengan Qlue, apakah ada syarat tertentu misalnya harus punya command center misalnya?

Enggak ada sih. Pakai laptop saja sudah bagus untuk monitor, sesederhana, enggak ribet banget. Sebab pertama kita nawarin Qlue ini kan download kemudian gunakan CROP,  data kita lempar ke smart city mereka. Perkara ini nanti mau dikelola di command center atau bioskop itu urusan dia lagi.

Artinya kota kedua dan ketiga bisa adopsi sistem Qlue?

Sangat memungkinkan. Saya lihat kota kota lain malah bangun command center-nya yang mewah, sebenarnya bukan itu. Qlue-nya kan ada sistemnya.

Qlue sudah jadi tren, laporan warga banyak. Dengan respons ini, Anda merasa Qlue sudah tercapai misinya?

Masih porsinya sangat kecil, tapi berkembang. Kampanye ini enam bulan terakhir ini. Tapi sudah banyak orang yang melakukan perubahan ya.

Mungkin dengan menggunakan Qlue ini ada keinginan untuk berubah, tapi yang diharapkan ini terus meningkat warga sadar ada perubahan dan membangun kota kita menjadi lebih baik.

Apa benar laporan yang disampaikan di Qlue melalui proses filter dan verifikasi dulu?

Jadi mereka itu lapor berdasarkan lokasi mereka berada. Kadang ada effort untuk melapor, misalnya keluar rumah untuk mem-foto. Jadi memang persentase untuk melaporkan fiktif itu sangat kecil.

Kedua, kalau masih ada yang fiktif bisanya Lurahnya itu teriak. Ternyata cuman kecil.

Tapi ya perlu ada reason, kalau laporan ini dianggap tak layak, mohon membaca ketentuan aturan laporan.

Beberapa waktu lalu ramai petugas RT dan RW. Aparat terbuka dengan laporan Qlue?

Kami sediakan platfrom, pemerintah itu tiap kota itu kan beda. Jakarta RT/RW melapor ke Qlue sama melapor di Twitter dan Facebook, itu kan sama saja.

Kebetulan Qlue masuk dengan konsep baru ini. Saya lihat persoalan itu bagus, lebih bagus kalau RT RW itu sosialisasikan warga agar aktif melaporkan. Saya melihat pandangan Ahok ada benernya juga. Saya enggak tahu soal dana operasional itu ya, tapi kira-kira hubungannya adalah itu juga masuk tagline.

Tapi kita memfasilitasi. Laporan puluhan ribuan per hari itu memang bener, kebanyakan melalui forum RT RW.

Laporan yang banyak masuk, performa jaringan dan sistem Qlue bagaimana?

Makin baik. Karena memang kita berusaha untuk bisa, mau dihajar 2 sampai 3 juta laporan juga siap. Kemarin kita siap-siap dibantu ATSI (Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia), jadi mereka mau blasting SMS ke pengguna nonstop selama tiga bulan ke depan.

Untuk mencapai 20 juta pengguna. tapi peningkatan terjadi, dan kita siap, kalau 5 juta kita siap lah. Kalau di atas 5 juta, kita ya coba lagi.

Qlue menjalankan integrasi ke sistem Pemprov gratis. Lantas bagaimana nanti monetisasi layanan Qlue?

Kita sifatnya sosial. Startup kan ada funding, ini mereka kan ingin mencapai traction. Saat traksi sudah banyak, traksi meningkat baru kita make money.

Kita pikirin dulu, traksi fokusnya grow, pokoknya naik-naik. Untuk make money bisa nanti dari iklan lah atau kita buat donasi.

Banyak cara untuk make money kalau user sudah banyak traksinya. Tapi kita mau make money bukan karena uang ya. Itu penting, tapi itu agar sistem ini berjalan dengan visi kita harus tercapai.

Monetisasinya bukankah bisa didapat dari jual dashboard ke perusahaan swasta?

Sekarang PLN, first media, Telkomsel perusahaan telekomunikasi lagi trial menggunakan dashborad kami, mereka kita fasilitasi untuk gratis tak charge, tapi mereka tapi ada fitur berbayar untuk mereka. Ya itu recehan lah, fitur berbayar apa sih.

Saat ini gratis, ada kemudian nanti berbayar?

Yang terpenting laporan itu ditindak lanjut. Terserah kalau mereka mau tambah fitur untuk analisa beda cerita. Tapi kalau Saya musti charge harus bayar kalau enggak jadi kalau bayar. Terus warga nanti bisa ada yang bilang, kalau lapor ke McDonald, nanti laporan saya tidak ditindaklanjuti lagi dong. Itu jauh dari visi kita.

Ada berapa mitra yang lagi trial sistem Qlue?

Kalau mitra enggak sih, tapi mereka lagi coba deketan. Kita pakai dashboard untuk tindak lanjut yang pakai tapi adanya 18 sih, yang gede-gede yang sehari-hari kita pakai. Indosat, Alfamart, Seven Eleven, Telkomsel, XL, Palyja, First Media, PLN dan lainnya.

Karakteristik di daerah yang berbeda apa, mau join dengan mitra?

Kalau daerah, Qlue akan tetap dipakai warga walaupun pemerintah enggak pakai.

Paling tidak netizen akan membahas misalnya eh itu ada lubang di jalan tuh. Terus nanti ada yang menanggapi. Jadi ngobrol gara-gara lubang. Tapi Pemprov akan lebih indah kalau tindak lanjut. Yang kita tawarkan, pak atau bu ini sudah ada keluhan tersebut, masak pemerintah enggak mau tindak lanjuti sih.

Terus mereka (pemerintah) kadang kan melihatnya duh kenapa kita diekspose ya jeleknya, enggak mau ah. Itu ada di Yogya begitu.

Jadi kalau saya lihat dari segi kultur, goverment will di mana melihat transparansi, tidak semuanya terekspose. Tak ingin hanya dilihat hanya sampah-sampah sampah saja, padahal ada tempat wisata yang baik juga.

ATSI itu sangat baik, mereka itu punya jejaring ada lima operator,. User base mereka banyak. Mereka bantu blasting promosi di jaringan dan aplikasi mereka.

Itu sangat membantu banget. Jadi mereka bener berniat membesarkan startup Indonesia. Saat ini kan memang ada tiga (startup) yang sudah gede-gede ya.

So far, memang masih dipelajari lagi pola lagi. SMS blash sih ya memang ada penambahan user tapi kalau dipikir siapa yang baca SMS blash, enggak semua kan.

Jadi mereka hebatnya, ingin cari cara. Kerja sama setahun tapi enam bulan evaluasi, tiga bulan evaluasi pendek kalau kurang efektif  dievaluasi. Misalnya SMS blash kurang cocok, bisa dilakukan melalui MMS blash atau aplikasi mereka. Jadi mereka sangat membantu.

Ada data pelanggan operator yang kemudian instal Qlue?

Ada datanya sih, tapi jumlahnya saya enggak tahu. Ada datanya. Mereka sudah blasting 5 juta user, tapi apakah total itu semuanya nomor aktif atau tidak.

Itu sudah cukup membantu. Hitung-hitung itu membantu sebab kalau itu kemarin kita bayar SMS blasting kita hitung bisa 9 miliaran untuk SMS blash.

Untuk ke depan, apakah akan tetap partisipasi laporan warga atau berubah dari visi?

Visi selalu sama, kita akan berikan kemampuan orang untuk melakukan perubahan. tapi kita lihat enggak cuma terpatok sama aplikasi. Yang kita pikirkan kan smart city dunia, jadi ngomongin soal ini bukan soal aplikasi saja kan.

Ada IoT (Internet of Things), sekarang kita fokus aplikasi dan kita terus simplifikasi agar orang enggak ribet memakainya.

Tapi ke depan kita bikin solusi baru yang bener bener terkoneksi terintegrasi, dan bisa jadi lansekap smart city di Indonesia. Karena itulah ada beberapa yang kita develop, tapi belum bisa dibilang, ada di tim penelitian dan pengembangan.

Yang kita kembangkan, IoT ada, analitik ada kayak gitu-gitulah. Memang kompleks, kita butuh banyak insinyur di Indonesia ini tak banyak mau kerja, maunya freelance. Susah juga.

Pemerintah tingkat nasional apakah sudah merespons kontribusi Qlue?

Belum ada. Kemarin Ahok katanya menunjukkan data Qlue ke Jokowi, kayaknya sih beliau interest, tapi belum ngobrol lagi.

Saya harap sih semua kota pakai, dan pak Jokowi tinggal memonitor pada satu tempat saja. Jadi nanti enggak perlu blusukan lagi ke mana-mana, Paling enggak warga melapor di sini di titik ini, terus tindak lanjutnya bagaimana. Lebih gampang lah, efisien, tinggal pakai, gratis lagi. Aplikasinya juga yang nge-hang-nge-hang gitu, jalan terus.

Harapannya dilirik sama beliau. Saya sudah kirim surat ke Istana, tapi ya mungkin beliau sibuk, kita sudah kirim surat ke Kemendagri, tapi belum ada jawaban.

Soal apa kaitannya dengan Kemendagri?

Kalau saya baca di koran, mereka mau bikin program meningkatkan pelayanan masyarakat melalui Pemda. Saya pikir pakai saja ini.

Kementerian lain?

Saya berharap yang makai Qlue bisa BNN (Badan Narkotika Nasional) untuk tangkap narkoba, polisi pakai saja. Kemarin diarahin untuk ke Krishna Murti (Ditreskrim Polda Metro Jaya). Terus ke KPK misalnya untuk laporin tangkap tangan, kira-kira gitulah, yang apapun bisa dilaporin.

Saya harap lembaga-lembaga itu bisa memakai ini lah.

Karena ini Qlue itu dikira punya DKI Jakarta ya. Karena orang lihat Ahok itu sangat menggebu-gebu.  
Jadi kadang mereka lihat, punya Pemda. Itu mungkin butuh sosialisasi.

Saat ini kan fokus aplikasi, ada kepikiran nanti bikin lain misalnya messaging?

Ada lah. Kalau messaging sih enggak. Itu sudah ada lah banyak. OTT (Over the Top) nasional juga sudah ada.

Tadinya mimpi kita kan banyak yang mendukung soal smart city, ada soal Qlue transit.

Tapi kita lagi fokusin pada aplikasi. Karena paling susah itu untuk fokus satu titik. Kayaknya yang bener itu ya fokus di aplikasi dulu.

Idenya kan smart city. keinginannya apa dengan kontribusi dalam smart city?

kita berharap kontribusi skala masif, sebab kita mendefinisikan smart city solution, dengan analitik dashborad kita.

Jika ingin kontribusi smart city di Indonesia dalam jangka pendek ini. Kita percaya bisa bangun dengan solusi jadikan sistem jadi jalan dengan baik.

Harapannya makin banyak yang aware, khususnya Pemda. Tinggal pakai bisa bangun kota dibanding nyari dari luar, bayar lagi.

Ada IBM, Microsoft mereka tertarik dengan B2B. Mereka punya teknologi sih. Misalnya IBM machine learning-nya mereka bagus, Kemudian Microsoft itu meski tak ada hubungannya dengan Qlue. Itu kan punya Skype.

Bisa juga Ahok itu ingin di tiap sudut kota di layar, misalnya dia ada pengumuman, dia muncul di layar untuk sampaikan informasi.

Tips untuk para startup lokal?

Kita melihat yang saya lihat banyak startup terkesima dengan duit. Wah ini bagus, keren nih bisa jadi duit. Tapi ujung-ujungnya sebelum berkembang, dia sudah mati startup-nya.

Untuk itu, yang terpenting itu memberikan passion dalam produknya. Satu atau dua tahun di startup itu yang paling susah. Di hajar kanan kiri orang, mula dari pendanaan, diremehin orang, macem-macem lah.

Jadi Pertama yang penting itu passion.

Kedua, maju terus saja. Innovate, nonstop. apa yang kita pikir bangun ya bangun. Kalau lakukan itu jangan terburu-buru tapi cepet. Cari timing yang pas itu penting juga.

Sebelum ini sudah banyak lah kegagalan. kita kan belum tahu yang terjadi, saya banyak belajar enggak terlalu mikirin duit dan lebih ke misinya sendiri. How do you grow jangan takut gagal.

Soal pendanaan?

Itu penting juga. Tipsnya adalah jangan pernah berharap dana dari seseorang. karena ini ujungnya pinjem. Kalau pinjem di bank enggak usah lah.

Yang penting ada sifat dananya, dapat 2 miliar tapi bisa ngebawa apa penyuntik dana itu ke kita. 10 persen ini bisa bawa apa ini. Cari teman atau investor bener-bener yang ngebawa kita.

Gimana caranya investor yang visinya sama, smart city global, network-nya bisa ke goverment dan merchant. Makanya enggak sembarangan.

Mendingan cari yang bisa bawa grow. Cari orang yang mendanakan dan tapi juga kasih network juga, visinya sama.

Berapa berapa pihak yang mendanai Clue?

Cuma bertiga sih. Saya, CTO (Chief Technology Officer) Qlue dan ada dua pendanaan, satunya bantu network, satunya pendanaan.

Baru satu kali fundrising, dari lokal. Yang ngasih dana dia ini nama perusahaan itu Prasetia Dwidharma, sebuah perusahaan investasi yang dipimpin oleh angel investor Budi Setiadharma.

Selain itu apakah ada investor yang sudah ngantri?

Ada beberapa yang kita seleksi (investor). Kalau bisa lokal sesuai bimbingan ATSI, kalau enggak ada ya native.

Tapi dalam skala kita sekarang, targetnya kotanya dua malah melebihi, enam kota. Jadi pendanaan yang dibutuhkan menjadi lebih gede.  

Smart city itu enggak seksi. Orang lebih lihat e-commerce, ojek online. Orang bilang smart city, wah enggak deh.

Jepang, India, AS itu yang tertarik dengan smart city, karena mereka sudah ngerti smart city itu untuk apa.

 

TERKAIT
TUTUP