TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Musuh Iflix Itu Pembajakan
Iflix menekan harga langganan semurah mungkin untuk lawan pembajakan.

VIVA.co.id – Over the top  ini salah satu startup yang banyak diperbincangkan di Asia Tenggara dan digadang-gadang sebagai penantang dari Netflix yang diblokir Telkom.

Pada 19 April lalu, iflix mengumumkan kerjasamanya dengan IndiHome. Indonesia menjadi negara keempat yang dilayani iflix dengan sekitar 50 ribu konten video yang dimiliki, di mana 3.000 di antaranya konten anak-anak.

iflix, yang dikelola perusahaan asal Malaysia ini mendapat suntikan dana, yang salah satu investornya perusahaan Indonesia, Emtek. Dana segar yang disuntikkan sekitar US$45 juta.

Lalu bagaimana strategi iflix untuk berekspansi ke Indonesia? Berikut wawancara VIVA.co.id dengan CEO iflix Cam Walker, beberapa waktu lalu.

Bisa Anda jelaskan apa itu iflix?
Kami adalah penyedia layanan video on demand (VoD) berbayar melalui internet. Misi kami menghadirkan konten video terbaik di dunia dengan harga yang sangat murah.

Seberapa murah?
Di retail, biaya berlangganan konten video kami hanya Rp39.000 per bulan. Lebih murah dari harga satu gelas kopi di kafe.

Bagaimana dengan persaingan bisnis layanan serupa di Indonesia?
Kami tidak melihat mereka sebagai persaingan. Pesaing terberat kami saat ini adalah pembajakan.

Anda ingin memerangi pembajakan di Indonesia dengan iflix?
Iya, karena saat ini pembajakan sudah sangat merajalela.

Bagaimana caranya?
Dengan memberikan biaya berlangganan murah tadi. Dengan Rp39.000 kita bisa menonton film sebanyak banyaknya selama sebulan. Jika membeli DVD bajakan, dengan harga segitu, paling hanya dapat 9 judul film.

Apalagi andalan iflix selain harga langganan yang murah?
Kita juga punya ribuan konten, dari segi kuantitas dan kualitas, iflix tidak main-main. Kami bekerja sama dengan studio Hollywood, baik untuk film maupun serial. Ada 12.000 jam sajian video di iflix, termasuk 2.000 jam hiburan film atau drama Korea dan 1.500 hiburan untuk anak-anak.

Bagaimana dengan konten video lokal?
Saat ini kami telah mengantongi izin 2.400 jam konten asal Indonesia.

Apa kelebihan iflix dibanding layanan lain yang serupa?
Kita punya satu fitur menarik, Download and Watch offline. Kita kan tahu, masalah dalam layanan VoD adalah konsumsi data. Dengan fitur ini, pengguna bisa mendownload video lalu menontonnya tanpa harus bergantung dengan internet. Kami juga punya subtitle dari berbagai bahasa. Tak hanya Inggris tapi juga Thailand, Malaysia, dan lainnya.

Bisa dibagi dengan pihak lain? 
Tidak. Setelah video di download, dalam kurun 7 hari, video akan hilang jika tidak ditonton. Sedangkan jika telah ditonton, video yang telah di download akan lenyap dalam waktu 48 jam.

Bisakah berbagi video dengan yang lain?
Tidak. Tapi anda bisa mendaftarkan 5 perangkat untuk menonton. Jadi anda bisa menonton di smartphone, tablet, maupun laptop. Sayangnya, kami belum punya aplikasi untuk smart TV.

Jika dibandingkan dengan Netflix?
Harga berlangganan kami lebih murah. Konten video kami lebih banyak. Yang tidak kami punya hanya konten original mereka. Kami menghargai originalitas Netflix. Download, subtitle, serta konten lokal Indonesia juga menjadi kekuatan kami dibanding mereka.

Kembali ke soal pembajakan. Ada target berapa persen iflix bisa kurangi pembajakan?
Jika dilihat dari pasar di Australia, saat layanan seperti ini masuk ke pasar negara tersebut dan mulai menarik perhatian penggemar film, data dari mesin pencarian Alexa, trafik ke situs penyedia film bajakan ternama, menurun sekitar 25 persen.

Seberapa besar kerugian pembajakan sebenarnya?
Data yang saya tahu, nilai bisnis pembajakan sekitar US$6,2 miliar secara global. Angka yang besar, belum termasuk pembajakan di dunia maya. Maka dari itu kami sediakan alternatif, banyak konten dengan harga murah.

Jadi tidak ada target mengurangi pembajakan di Indonesia?                Target persentase, kami tidak memilikinya. Hanya saja kami ingin memberikan alternatif kepada penggemar film agar memiliki lebih banyak pilihan video tanpa harus khawatir kualitas.

Bagaimana pasar iflix setelah menggandeng Indihome Telkom?    Sebelum meluncur, kami sudah punya sekitar 37.000 pre-registered account. Setelah launch, ada 2.000 activated account, hanya dari Indihome.

Apa sih tantangan pasar di Indonesia?
Untuk akuisisi pelanggan, kami rasa tidak terlalu banyak kendala. Data yang kami punya, pengguna di Indonesia 40 persennya mau berlama-lama di depan layar, baik layar televisi maupun smartphone. Yang jelas, banyak pesaing sehingga kompetisi akan panas tapi kami yakin bisa meraih pasar besar di Indonesia. Kalau dari sisi engagement ke user, tidak terlalu sulit.

Konten lokal di iflix ada berapa?
Sekitar 20 persen

Strategi untuk meraih pasar Indonesia?
Memperbanyak konten lokal, mencoba membuat konten original iflix di Indonesia. Untuk saat ini kami coba membuat nyaman para pengguna menonton konten di iflix.

Berapa target pengguna iflix di Indonesia sampai akhir tahun ini?
Kami tidak punya target spesifik. Tapi saya yakin penggunanya akan bertambah besar. Dari Indihome saja, sudah terlihat ada 3 juta pelanggan. Kami juga membuka kemungkinan kerja sama dengan operator mobile lain di Indonesia. Bayangkan jika satu operator bisa kami gaet menjadi pelanggan iflix.

Mengapa sekarang kesannya layanan ini hanya eksklusif bekerja sama dengan satu operator?
Bisnis ini sebenarnya bukan permainan yang eksklusif. Mereka butuh banyak konten dari banyak pemain. Sekarang memang kesannya eksklusif tapi ke depannya akan menjadi kerja sama yang terbuka.

Apakah regulasi di Indonesia tidak menyulitkan iflix?
Kami justru mematuhi aturan yang berlaku. Kami akan bentuk PT, bayar pajak, gunakan payment gateway lokal, dan lainnya. Jika regulasinya sudah ketuk palu, kami pasti comply.

Soal server?
Idealnya memang harusnya berada di setiap negara tempat kami beroperasi. Kami juga akan patuhi aturan itu. (umi)

TERKAIT
TUTUP