TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Penyelenggaraan Ibadah Haji Sudah Sesuai Jalur
Penyedia layanan haji yang tidak sesuai dengan kontrak akan didenda.

VIVA.co.id – Musim haji 2016 sudah bergulir. Puluhan ribu jemaah haji Indonesia juga sudah berdatangan ke Tanah Suci.

Secara bertahap, seluruh jemaah haji gelombang pertama sudah mendarat di bandara Madinah. Di Kota Nabi itu, jemaah berkesempatan menjalankan salat Arbain dan berziarah, di antaranya ke makam Rasulullah SAW.

Kini, sebagian jemaah sudah bergerak ke Mekah dari Madinah. Mobilisasi jemaah haji ke kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu pun terjadi dari Jeddah.

Saat ini, ribuan jemaah haji gelombang kedua juga secara bertahap mendarat di bandara Jeddah. Mereka selanjutnya akan bergerak ke Mekah untuk melaksanakan umrah wajib.

Mekah pun mulai jadi sentral perhatian jemaah haji dari seluruh dunia. Termasuk juga seluruh jemaah haji Indonesia, yang kini hampir separuhnya sudah memadati Mekah.  

Tentu saja, kondisi itu memerlukan konsentrasi tinggi dari petugas haji untuk selalu berkonsolidasi dan berkoordinasi guna memberikan layanan terbaik bagi jemaah haji.

Untuk mengetahui kondisi terkini pelaksanaan haji tahun ini dan bagaimana kesiapan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi jelang puncak haji yakni wukuf di Arafah, VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Abdul Djamil, di Madinah, Jumat 26 Agustus 2016. Berikut petikannya:

Selama empat hari di Madinah, apa saja yang menjadi perhatian Anda?

Kedatangan saya selama empat hari ini tentu saja untuk konsolidasi dengan Daker Madinah. Karena, saat ini di Madinah sedang terjadi mobilisasi jemaah ke Mekah. Di sisi lain, sebagian jemaah dari Tanah Air juga masih ditempatkan di sejumlah hotel di Madinah.

Artinya?

Saya ingin memastikan semua proses debarkasi jemaah hingga sampai ke hotel tidak ada masalah. Hotel harus melakukan pelayanan sesuai yang tercantum dalam kontrak. Itu yang pertama. Kedua, mereka harus mematuhi ketentuan yang ada (di antaranya hotel berada di kawasan Markaziyah), sedangkan ketiga mengenai kelayakan hunian. Namun, dari komentar jemaah di hotel, mereka merasa puas.

Tapi, dua tahun lalu, perusahaan penyedia hotel tidak mampu menempatkan jemaah di Markaziyah sesuai dengan kontraknya. Kemudian kita denda, dan uang denda itu kami serahkan ke jemaah.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kemenag, Abdul Djamil

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Abdul Djamil, (ketiga dari kanan) saat meninjau pemondokan jemaah haji di Madinah.

Lalu, bagaimana dengan layanan katering?
Katering diberikan dua kali. Soal keamanan dari perspektif kesehatan juga sudah kita lakukan. Petugas di Sanitasi dan Surveillance Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) melakukan penelitian hingga ke perusahaan katering. Sebelum dikonsumsi jemaah haji, katering diperiksa melalui uji laboratorium. Apakah ada toksin atau racun dalam makanan. Basi atau tidak. Jika tidak ditemukan toksin, baru boleh dikonsumsi.

Apa sanksinya?

Jika nekat, kita cut, seperti tahun lalu. Kita harus lugas dan tegas terhadap layanan katering ini. Kalau berakibat membahayakan jemaah, kita cut. Tidak ada pilihan lain. Selanjutnya, kita serahkan ke perusahaan lain yang mampu menangani sesuai kapasitas jemaah.

Selain itu, apa fokus perhatian Anda lainnya?

Saya juga ingin memastikan transportasi harus sesuai dengan yang direncanakan. Bus dari Madinah ke Mekah harus sudah di-upgrade. Saya cek pada keberangkatan beberapa kloter, bus sudah sesuai fasilitasnya. Saya pastikan dan konsolidasikan, kalau melenceng saya harus ambil langkah yang cepat dan tepat. Ini semua memang butuh untuk dikonsolidasikan dan koordinasikan bersama.

Mekah kini menjadi central point. Koordinasi harus menyeluruh, baik terkait jemaah dari Madinah ke Mekah maupun kedatangan jemaah ke Mekah dari Tanah Air melalui Jeddah. Kami pastikan semua tidak ada masalah.

Apakah sejauh ini penyelenggaraan haji sudah sesuai rencana?  
Pelaksanaan sudah sesuai rencana. Tidak hanya saya yang komentar. Kami juga bertanya kepada jemaah sebagai sampel. Kami pun mendatangi jemaah di hotel dan bertanya kepada mereka soal layanan yang diberikan. Kami juga bertanya ketika jemaah datang ke sini (Daker Madinah). Direktur Pembinaan Haji dan Umrah (Muhajirin Yanis) dua hari lalu juga mengunjungi jemaah di hotel dan melihat keberangkatan ke Mekah.

Karena sudah on the track, maka saya harus konsolidasi ke daerah kerja lain untuk persiapan puncak haji.

Apa pesan Anda untuk para jemaah haji?

Tolong tenaga dihemat. Karena saat di sini (Madinah) mereka menjalankan Arbain. Setelah selesai, jemaah diberangkatkan ke Mekah untuk umrah wajib, sebelum bersiap wukuf di Arafah. Karena puncak haji itu wukuf. Nah, rentang waktu sebelum wukuf itu cukup lama. Umrah silakan saja. Tapi, jangan dipaksakan, dengan tidak mengukur kemampuan, sehingga saat wukuf malah sakit.

Selain itu, jemaah harus banyak minum. Karena, cuaca sangat panas. Jangan ambil risiko dengan sering-sering berada di tempat-tempat yang terkena Matahari langsung.

Jemaah Ahmadi (kedua dari kanan)

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Abdul Djamil, (kedua dari kiri) saat menanyakan layanan pemondokan kepada jemaah haji di Madinah.

Bagaimana Anda melihat kesiapan petugas haji?

Untuk petugas haji, salah satunya di Daker Madinah, saat prosesi Armina, akan di-BKO-kan ke sana. Saya minta, saat di Arafah dan Mina, petugas harus terlihat secara signifikan. Pakai seragam dinas, untuk mengantisipasi terkait apa pun yang dibutuhkan jemaah.

Bagi petugas yang sudah berhaji, saya minta untuk tidak berhaji. Kecuali yang belum, kami kasih kesempatan untuk berhaji. Kami menuntut petugas untuk menjalankan tugas melayani jemaah. Terutama di saat kondisi kritis seperti di Arafah dan Mina.  

Terkait kunjungan DPR ke Daker Madinah, apa saja rekomendasinya?

DPR memang memberi masukan. Tentu karena fungsi pengawasannya, ada hal yang direkomendasikan untuk upaya peningkatan ke depan. Di samping itu, secara objektif, DPR menilai ada peningkatan dibanding tahun lalu. DPR juga melihat hunian jemaah secara langsung, bagaimana jemaah ditempatkan, mendapatkan konsumsi, dan layanan transportasi ke Mekah.

Selain itu?

Ada juga usulan ke depan, agar visa dilaksanakan lebih sistematis. Ini juga menjadi bagian dan direkomendasikan untuk ditingkatkan ke depannya.

Bagaimana pula dengan usulan untuk memprioritaskan keberangkatan jemaah lanjut usia?

Jemaah usia lanjut memang juga jadi perhatian. Tapi kami juga punya kebijakan. Karena, tidak bisa semua diberangkatkan bersamaan dalam satu waktu. Karena dalam setiap penerbangan, sesuai aturan, jemaah usia lanjut maksimal 30 persen.

Coba bayangkan jika banyak usia lanjut dalam satu penerbangan. Jika ada apa-apa siapa yang menolong. Jadi, itu harus berimbang. Kebijakan kami, siapa yang masuk porsi berangkat, ya kami berangkatkan. Namun, porsi berangkat itu dengan pertimbangan kesehatan yang ketat.

Bagi jemaah usia 75 tahun masih berkesempatan untuk berangkat haji. Namun, mereka menggunakan kesempatan itu pada pelunasan kedua, berdasarkan sisa kuota gelombang pertama.

TERKAIT
TUTUP