TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Saya Enggak Woro-woro Jadi Hero
Anies masuk dalam 100 orang tokoh intelektual dunia.

VIVA.co.id – Anies Rasyid Baswedan lahir di Kuningan, 7 Mei 1969. Pria yang dikenal sebagai praktisi dunia pendidikan ini dicatat beberapa kali mencoba terjun ke dunia politik. Sebelumnya Anies Baswedan mencoba peruntungan ikut penjaringan calon presiden melalui Konvensi Partai Demokrat.

Tahun ini, Anies lantas maju menjadi calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka diusung Partai Gerindra dan PKS. Cucu pejuang pergerakan kemerdekaan AR Baswedan itu, sejak muda cukup dikenal di dunia akademisi. Dia menjadi salah satu rektor termuda di Indonesia saat memimpin UniversitasParamadina dalam usia 38 tahun.

Dengan kiprahnya, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah disebut majalah Foreign Policy yang mengulas bidang hubungan internasional, masuk dalam 100 orang tokoh intelektual dunia.

Suatu pagi beberapa waktu lalu, VIVA.co.id berkesempatan mewawancari Anies di kediamannya yang bergaya paduan arsitektur rumah joglo ala Jawa dan desain modern. Di kediaman yang rindang dengan pohon dan tanaman, Anies bercerita banyak soal misi dan bukan cita-cita untuk Jakarta, tentang demokrasi hingga kelihaiannya membaca survei.

Anda pasti makin sibuk dan banyak kegiatan setelah mencalonkan diri?

Sebetulnya kalau dari sisi sibuk dari dahulu ya sibuk. Cuma bedanya adalah ini ndak pakai jeda, non stop, beda. Dari satu hari ke hari berikutnya ya juga tanpa jeda.

Sebelumnya memang pernah terpikirkan menjadi calon kepala daerah?

Saya, enggak pernah. Tanggal 23 September adalah hari terakhir pendaftaran. Pada tanggal itu saya dijadwalkan berada di New York memberi keynote speech dalam global conference di Sidang Umum General Council  di PBB. Sepuluh hari sebelumnya saya terkena sakit demam berdarah selama lima hari dirawat di Mayapada. Oleh karena itu ke New York dibatalkan.

Akibat dibatalkan saya berada di Jakarta dan kemudian terjadilah sekarang yang terjadi.  Jadi  kalau Tuhan menakdirkan saya sehat waktu itu, saya mungkin sudah berada di New York karena saya harus berangkat hari Selasa, acaranya hari Jumat.  Saya sama istri sudah ada visa, sudah tiket, rencana selesai dari New York kami rencana napak tilas ke tempat kami kuliah dulu. Mau ke Maryland (University of Maryland), ke Illinois (Northern Illinois University). Toh saya enggak punya kegiatan yang khusus, toh punya waktu, sudah kontak teman-teman dan semua berubah.

Jadi, jangankan pada memikirkannya, wong jadwalnya saja itu yang kita rencanakan itu sama sekali beda. Tapi hidup ini mengalir, saya enggak pernah tahu rencana Tuhan apa, kita jalani. Yang penting kita selalu siap ketika ada persimpangan-persimpangan yang dipilih.

Apa yang terpikirkan saat menerima tawaran calon kepala daerah?

Saya itu selalu menganjurkan agar jangan takut masuk politik. Jadi kalau ada undangan menjadi caleg, jangan khawatir. Kalau orang-orang tak bermasalah menghindari wilayah pengambilan keputusan, kalau orang-orang baik cuma mau jadi pembayar pajak yang baik terus yang ngurus uang pajak kita siapa? Karena itu saya selalu menganjurkan, ketika dahulu sama, saya selalu menganjurkan orang untuk mau dan saya jalani itu dengan cara ajak teman-teman, kita ajarkan dengan baik-baik.  Supaya apapun prosesnya awal sampai akhir fine.

Pada saat itu “deal” dengan parpol hitungan hari?

Waktu saya di rumah sakit ketika ketua PPP (Romahurmuziy) datang jenguk. Saya di rumah sakit, jadi datang ke rumah sakit saya ditanya. Sebenarnya intinya begini, bukan berarti saya pasti dicalonkan, tidak, mereka menanyakan. Kira-kira begini pertanyaannya, ini sedang dipertimbangkan beberapa nama, salah satunya nama anda, jika nanti kita memutuskan bersedia tidak? Jadi bukan saya yang memutuskan ya bakal calon, tidak. Tapi lucu juga kalau mempertimbangkan nama kalau orangnya enggak mau. Jadi ditanya dulu.

Apa yang menjadi faktor utama Anda bersedia?

Jadi saya bicara dengan banyak orang, diskusi, teman-teman juga banyak. Pada akhirnya dua kok, ada yang setuju ada yang tidak. Pada akhirnya yang menjalani saya dan keluarga dan teman-teman dan waktunya hitungannya cepat sekali itu. Bahkan kalau menjelang harinya, ya jam saya diundang jam setengah satu malam, malam Jumat.

Eep (Eep Saefullah) sebelumnya sudah mulai membocorkan nama Anies?

Di mana keluarnya? Koalisi mana? Dua (koalisi) keluar (nama Anies). Tapi saya sendiri tidak bisa ikut rapat di manapun, memang enggak bisa karena saya itu, ya ngobrol, duduk sama teman-teman dengar kabar, tidak terlibat dalam pembicaraan. Saya malah merasa, saya ngalir aja dah. Jika para pimpinan partai merasa saya bisa berkontribusi saya siap, jika tidak saya juga tidak pernah berencana. Bayangkan mindset-nya.

Ada yang menilai, pencalonan bisa membuat pilkada Jakarta tidak terlalu panas. Anda dikenal santun dan tenang selama ini. Bagaimana?

Saya akan terus menggunakan cara yang baik akan terus menggunakan cara yang beretika. Memang saya bayangkan ini, era perjalanan umat manusia saat ini era keras, era seluruh dunia, bukan saja di Indonesia. Sekali lagi coba perhatikan, jutaan orang yang mengungsi itu karena apa coba, karena krisis pangan, karena krisis ekonomi, bukan. Tapi arena krisis politik karena konflik. Konflik antarnegara dan antartentara, bukan melainkan antar masyarakat sipil seluruh dunia.

Majalah Times bulan Agustus kemarin menulis kenapa kok internet menjadi tempat berbagi kebencian. Jadi bukan hanya di Jakarta saja di Indonesia aja tapi seluruh dunia. Jadi saya melihat dalam suasana seperti ini apalagi ada pilkada, kita harus datang dengan pesan yang positif, sekeras apa pun kritik yang diterima, jawab dengan senyum, enggak ada masalah.

Dengan begitu kita akan menujukkan bisa kok ambil keputusan tegas, ambil sikap tegas. Tegas itu adalah fungsi dari keyakinan prinsip, karena itu bisa tegas, yakin apa yang dikerjakan karena itu bisa tegas. Tapi ekspresi tetap harus menjaga adab, menjaga suasana karena ekspresi bukan benar salah tapi ekspresi itu baik buruk. Baik buruk itu konsekuensinya, benar salah itu nilainya.

Jadi saya merasa besyukur bila ada ternyata nuansa yang baru karena kami bila ditugaskan, ingin suasana pilkada di Jakarta, di seluruh indonesia, nuansanya damai. Dan itu bukan sebuah pekerjaan yang sederhana. Mengapa? Yang dukung jumlahnya bukan 3 orang 4 orang. Masing-masing yang punya pendukung banyak sekali, kita pada merapikan semuanya agar konsisten.

Ada meme, Ahok mudah marah, kalau Anies enggak bisa marah, yang lainnya asal “bapak tidak marah”. Tapi tantangan di Jakarta tidak bisa dijawab hanya dengan karakter yang halus. Ada banyak mafia di Jakarta. Tanggapan Anda?

Jadi marah-marah dengan marah itu beda. Saya memang tidak biasa marah-marah. Tapi kalau marah kita semuanya pernah ya, kita semua bisa. Nah ketegasan di sini kunci, saya beri contoh ya. Pak Dirman (Sudirman) panglima, itu profesinya apa beliau? Guru SMP.

Sekolahnya apa? Sekolahnya sekolah guru namun menjadi panglima tertinggi TNI yang pernah ada. Suka marah-marah? Tidak. Suka membentak? Tidak. Sopan? Tentu. Santun? Ya. Tegas? Sangat. Berani? Luar biasa, di situ menurut saya. Kalau saya buat contoh saya akan tunjukkan contoh ini. Seseorang pendidik dan pemimpin menjadi panglima dan menghargai orang lain. Yang dihadapi bukan mafia saja, yang dihadapi adalah pasukan-pasukan tempur yang melumatkan republik. Tapi apa yang terjadi, sebuah sikap diambil karena keyakinan atas prinsip dan ini yang menurut saya justru dibutuhkan.

Kita ketika suasana yang ada suasana yang kering gersang itu, salah ngomong saja bisa membuat masalah banyak sekali kok. Betul enggak? Jadi bayangkan ketika berhadapan dengan berbagai kekuatan itu justru pendekatannya konfliktual. Nah selesai, dengan DPRD, dewan kota dengan para stakeholder yang ada di Jakarta. Mulai dari Organda, pengembang, semua itu , bicara-bicara. Masing-masing punya kepentingan  dan kepentingan  bisa dirumuskan kok sehingga ketemu kesepakatan-kesepakatan termasuk kesepakatan tidak sepakat tetapi jangan justru perbedaan itu justru dijadikan permusuhan, konflik lewat media, saling serang, yang rugi siapa sih? Warga Jakarta, yang rugi kita semua.

Hanya ada perasaan puas gitu? Puas. Kalau saya mendukung A, lalu si A menyerang B, puas betul saya. Kemudian si B nyerang A, pendukungnya puas betul. Untuk masyarakat secara umum? Justru tidak karena itu justru saya sama Mas Sandi (Sandiaga), ini adalah dua pihak yang berseberangan kemarin. Saya juru bicaranya Pak Jokowi, Mas Sandi juru bicaranya Pak Prabowo. Apa sih pesan yang disampaikan? Kami bisa berbeda tapi kami juga bisa bekerja sama. Ada masa kita pernah berbeda, ada masa di mana kita bisa bekerja sama. Saya kira Jakarta justru sedang membutuhkan itu. Bukan sekadar apakah bisa marah-marah dan tidak bisa marah-marah karena yang diperlukan Jakarta adalah solusi bukan atraksi.

Sebelumnya Sandiaga saat berencana maju jadi bakal calon gubernur sowan ke Anda?

Nomor satu, saya dengan Mas Sandi kenalnya lama ya jadi bukan seperti baru pilkada baru ketemuan . Ibu saya dengan ibunya Mas Sandi teman sekelas sejak kuliah. Sama sekelas di IKIP Bandung tahun 50-an, hingga 60-an awal. Jadi kebayang ya ketemuan Sandi bukan seperti hanya karena pilkada kita ketemu.

Yang kedua, kita banyak aktivitas sama-sama. Sebagian kegiatan saya selama ini juga didukung oleh Mas Sandi dan grup perusahaan-perusahaannya. Jadi ketika Beliau mau maju tahun 2015, November juga sempat ngobrol sama saya. Jadi pembicaraan itu bukan sesuatu yang unik termasuk ketika kemarin (disatukan). Jadi kira-kira seminggu sebelum, enggak seminggu, sesudah saya ke luar dari rumah sakit itu, sesudah saya ke luar dari rumah sakit nama saya muncul, hasil survei muncul, muncul di dalam diskusi. Nah di situ kita ketemu.

Pada pertemuan November 2015, Sandi sudah utarakan ingin maju ke pilkada?  
Ya benar.

Saat itu sudah ada pembicaraan untuk pasangan?

Oh enggak ada. Itu November 2015 ya. saya masih menteri dan enggak tahu juga bahwasanya kalau saya akan berhenti. Waktu itu dia sekadar tanya sebagai teman. ‘Nies (Anies), bagaimana kalau saya maju di Jakarta’.

Jadi saya tidak menjadi faktor dalam urusan Jakarta. Saya ditanya sebagai teman karena Beliau akan maju di Jakarta. Itu 19 November 2015 di Bali. Waktu itu kita sama-sama ke Bali ada acara di sana. Jadi enggak ada, makanya jadi unik saya bilang gitu. Ketika ujungnya, itulah saya katakan Tuhan itu bekerja sesuai dengan yang enggak pernah kita tahu.
 
Maju pilkada siap dibuka “boroknya” termasuk isu minus pasangan. Belakangan Sandiaga dikaitkan masalah dengan penuntasan pesangon karyawannya.  Bagaimana Anda menghadapi isu tak elok pasangan

Tentu kita ber-partner dan kalau sudah musim kampanye begini kita tentu tidak ingin ada kampanye hitam. Dan kalau ada kampanye hitam, kita justru harus counter itu, mengatakan itu tidak benar dan semua hal yang menyangkut kita itu kita diskusikan lalu kita atur untuk direspon dengan proper.

Jadi singkatnya, mengapa akhirny terjun di Pilkada Jakarta?

Kenapa bersedia dicalonkan di DKI, gitu ya. Silakan dicek seluruh partai. Saya tidak pernah datang menawarkan diri, enggak pernah. Saya ini diundang dan ketika diundang apa dasarnya, survei.

Survei itu apa sih? Survei itu adalah pandangan masyarakat. Apakah saya kenal dengan responden itu? Enggak kenal. Jadi kalau dikatakan, misalnya ada 23 persen penduduk Jakarta yang memilih Anies misalnya, mereka itu sedang apa sih? Kepercayaan bukan. Itu ada orang yang saya tidak kenal. Ini lain dengan 5 orang teman, teman saya  lalu mikir, yuk nies kamu maju ya. Itu kan memang teman-teman saya dan ini orang-orang yang saya tidak kenal. Karena itu saya katakan saya punya tanggung jawab moral untuk mengatakan, untuk menjawab ini.

Ada ratusan orang, ribuan orang di Jakarta ini yang sering muncul di media. Kenapa mereka memilih, dan saya harus menjawab dan saya harus katakan saya siap melakukan. Kalau tidak angka itu saya tidak punya beban moral. Saya mengatakan, ya sudah saya enggak usah jalani. Tetapi saya katakan ada yang mengatakan saya percaya dengan anda di saat seperti sekarang ini. Saya katakan saya siap jalankan itu. Jika memang masyarakat lebih besar lagi mempercayai, kita jalani. Jadi jangan dibalik seakan-akan saya sedang melamar, enggak tuh. Itu silakan dicek pada semua.

Jadi dilamar partai?

Betul. Bahkan ketika saya , kalau saya masih berada di kabinet, barangkali enggak ada yang melamar juga ya kan. Tapi Siapa juga yang mengira saya dicukupkan tugas di kabinet, enggak tahu juga.

Anda lebih banyak dikenal kelas menengah ke atas, masih kurang ke akar rumput. Strategi memenangkan pemilih akar rumput?

Ya kalau menurut survei yang mengenal sekitar 82 persen di Jakarta, 82 persen rasanya bukan hanya di bawah ya bukan hanya di atas ya, rasanya. Tapi menurut saya pada akhirnya bukan soal dikenal, pada akhirnya kita memutuskan bukan Anies gubernur atau Pak Basuki gubernur atau pak Agus gubernur. Yang akan diputuskan oleh Jakarta nuansa apa yang ingin dibuat di kota ini selama lima tahun ke depan. Hadirnya seorang gubernur, dia memberikan warna, dia memberikan nuansa bagaimana masyarakat dan kota ini dikelola. Apakah dikelola dengan gaya yang selama ini atau dikelola dengan gaya yang berbeda. Pilihannya ada di masyarakat, sebenarnya pilihannya lebih dari pada milih Anies, Basuki, Agus.

Dan itu sebabnya ketika bicara soal dikenal atau tidak, sebenarnya perlu diketahui dikenal nuansanya, bukan dikenal soal orangnya, pribadinya, nama orangnya. Tapi nuansa apa yang akan dibangun, mungkin itu.

Soal demo anti Ahok. Anda sebagai cendekiawan muslim bagaimana menilai soal aksi Bela Islam, apakah perlu?

Itulah sebabnya kita semua ini, apalagi calon itu harus menganggap penting kata-kata karena kata-kata bisa menimbulkan salah pengertian. Akhir-akhir ini kan sering kali dianggap kata-kata enggak penting, yang penting kerja. Padahal kata-kata itu penting, kata-katalah yang memberikan narasi bukan? Dan situasi seperti ini juga terjadi karena kita mungkin tidak hati-hati.

Nah karena itu, harus hati-hati. Saya mengajak kita untuk introspeksi, saya introspeksi, Pak Agus instrospeksi, Pak Basuki introspeksi, jaga. Kita ini berada di fase perjalanan umat manusia yang kering tadi, mudah terbakar. Makanya harus hati-hati. Saya akan terus saja fokus pada soal rencana kerja, apa yang mau dijalankan di Jakarta dan Jakarta ini maunya perubahan kotanya kok, kita akan konsentrasi ke situ aja.

Narasi Islam perlu dibela apakah tepat?

Kalau saya menjadi gubernur maka saya harus menjalankan tugas sesuai dengan undang-undang. Jadi kalau undang-undang itu artinya juga Undang-undang Dasar. Dan saya berkali-kali mengatakan bahwa negara, kalau saya jadi gubernur, saya tidak bisa mengatur pikiran orang. Saya tidak bisa mengatur rasa orang. Tapi saya bisa mengatur cara mengekspresikan pikiran dan cara mengekspresikan rasa, tapi pikiran orang lain saya tidak bisa atur.

Ketika orang mau berpikiran komunis, mau berpikiran Islam, mau berpikiran sosialis, kapitalistik, saya tidak bisa larang itu. Tapi ketika diekspresikannya tidak sesuai dengan undang-undang saya akan bertindak. Jadi sebagai gubernur saya akan menjalankan tugas saya sesuai dengan undang-undang dan itu artinya tidak ikut-ikutan dalam pro kontra pikiran. Kalau saya ilmuwan , saya ikut diskusi soal pikiran. Tapi kalau penyelenggara negara itu pekerja mengikuti undang-undangnya. Tidak ada satupun undang-undang yang bisa mengatur pikiran orang, yang bisa diatur cara mengekspresikan pikiran. Begitu mengekspresikan pikirannya itu melanggar, ya ditindak, terbayang kan.

Itu saya tulis. Saya menulis sebuah artikel soal ini, judulnya, ini soal tenun kebangsaan titik. Tegas sekali tulisan itu. Saya tulis sekitar tahun 2011 di Koran Kompas karena saya melihat tenun kebangsaan harus dirawat dan cara merawatnya justru negara tidak ikut soal isi pikirannya. Emangnya negara bisa bilang ini pikiran benar, ini pikiran, negara kan tidak bisa begitu. Ilmuwan boleh berdebat isi pikirannya, tapi kalau negara, begitu anda mengekspresikan rasa, keyakinan, pikiran dengan cara yang benar maka undang-undang melindungi.

Ketika mengekspresikan dengan cara yang salah maka undang-undang akan menindak. Siapa yang menindak ya penegak hukum. Jadi d isitu, kita harus hati-hati. Tapi kalau penyelenggara negara, gubernur, bupati, presiden, menteri, ikut di dalam perdebatan pikiran. Sebentar, ini siapa penyelenggara negaranya nanti. Penyelenggara Negara bekerja mengikuti undang-undang. Begitu kira-kira.

Komposisi dengan Sandiaga, Anda calon gubernur, Sandiaga calon wakilnya, mengapa tidak sebaliknya. Bagaimana ceritanya?

Begini, saya kan enggak terlibat dalam rundingannya ya.  (tertawa)

Jadi pas dipanggil memang langsung untuk calon DKI 1?
Ya

Sempat beredar surat rekomendasi PKS soal itu?

Jadi saya ketika diundang sebagai calon gubernur. Jadi tidak kemudian saya berunding di situ, enggak.
 
Sewaktu datang ke rumah Prabowo, karena memang sudah pasti akan menjadi calon gubernur yang akan diusung saat itu?

Ya betul.  Pertanyaan begini, kenapa kok ada nama Anies di situ. Jadi hari Rabu malam ada pertemuan di Cikeas, di situ PPP dan PAN yang membawa nama saya, yang mendiskusikan nama saya. Tapi kemudian dalam diskusi di sana tidak ketemu kata sepakat. Tidak ketemu kata sepakat, lalu hari kamis PPP berbicara dengan Mas Sandi, dalam pembicaraan dengan Mas Sandi itu mereka bawa nama saya, wong mereka yang bawa nama kami. Maka nama saya dibicarakan di situ. Kenapa, karena ada hasil-hasil surveinya, tapi kemudian hari Kamis malam PPP diundang rapat di Cikeas. Jadi yang dibawanya ketinggalan di sini, yang membawanya ikut ke Cikeas. Lalu di situlah nama saya dibicarakan.

Anda pernah jadi jubir  Jokowi saat pilpres bersaing dengan Prabowo, sekarang Anda malah didukung Prabowo.

Emang masih pilpres sekarang (tertawa). Itulah yang saya sering katakan, kita harus belajar sebagai bangsa, berdemokrasi. Dalam berdemokrasi itu kita akan ketemu dengan pilihan-pilihan. Misalnya begini, saya kasih contoh, kita ini sudah terbiasa dengan pilihan yang enggak bisa diubah dengan kelompok yang enggak bisa berganti.

Misalnya, kelompok Muslim, enggak bisa berganti. Kelompok Nasrani, kelompok  Budha, ya seumur hidup akan terus begitu, enggak akan ganti. Oke. Kelompok Jawa, kelompok Sunda, ya seumur hidup enggak akan pernah ganti. Sekali Jawa ya Jawa seumur hidup, enggak mungkin berubah bukan. Oke, sekarang saya kasih pilihan, tax amnesty, nah ini, saya mungkin setuju, anda mungkin tidak setuju. Kita berbeda pandangan di situ. Tax amnesty selesai, sekarang kasih persoalan baru lagi. Subsidi, ternyata kita sama. Saya tidak setuju dan anda setuju urusan subsidi.

Nah, bangsa kita sedang berlatih, untuk setuju dan tidak setuju, konteksnya adalah proses demokrasi. Karena kita terbiasa kelompok berdasarkan identitas, karena identitas itu, sekali sama ya seumur hidup sama. Jadi ketika ada orang misalnya tidak sama lagi kok meninggalkan kami.

Sebentar, memangnya masih ada pilpres sekarang gitu sehingga saya meninggalkan kelompok? Enggak tuh. Sudah selesai, ini adalah bagian kita berlatih sebagai sebuah bangsa dan saya memilih untuk mendidik bangsa ini tentang kesiapan kita menghadapi pilihan-pilihan yang berulang-ulang. Pilihannya terus berulang-ulang. Nanti enggak selesai. Ini bagian dari latihan dan sebagian besar dari kita belum terbiasa.

Ngomong-ngomong kapan terakhir berkomunikasi dengan Jokowi?

Tanggal 27 Juli pada saat saya dipanggil untuk di-reshuffle.

Setelah mendaftar di KPUD DKI tidak ada komunikasi ya?

Kalau langsung tidak ada. Tapi dengan beberapa teman yang dekat di sana saya komunikasi wong saya teman sama mereka.

Bagaimana respon kolega pengajar atau akademisi di Universitas Paramadina?

Jangan, jangan ada. Biarkan teman-teman di kampus itu menjalankan tugasnya di kampus. Kalau mereka mau ikut mendukung ya mereka harus permisi kegiatan di kampus. Saya tidak mau mengganggu.

Sikap mereka soal Anda maju ke pilkada?

Secara holistik kami komunikasi terus. Ada yang setuju ada yang tidak.  Ada yang mendukung Pak Agus, ada yang mendukung Pak Basuki, ada yang mendukung Anies. Ya seperti masyarakat umumnya. Kalau masyarakat itu secara statistik itu terpecah 50:50, maka kira-kira 50:50. Kira-kira begitu .

Apa strategi Anda memenangkan pilkada?

Memang relatif mendadak. Jadi saya memanggil teman-teman yang dahulu pernah membantu. Saya pernah terlibat dalam kampanye 2014, jadi ada teman-teman yang dulu membantu ya saya kontak mereka semua. Kita menggariskan maju bersama, kita ingin di tempat ini kita semua maju dan majunya bersama. Apa itu, ya maju kotanya, bahagia warganya. Jangan hanya kotanya yang maju tapi warganya tidak bahagia.

Sebaliknya jangan hanya memikirkan kebahagian warga tapi kotanya tidak dimajukan. Kenapa? Ini kombinasi penting karena ini yang mau kami tawarkan, saya dan mas Sandi itu berpasangan bukan sekadar untuk bisa menang di pilkada tapi untuk nanti menjalankan tugas di Jakarta. Mas Sandi banyak dalam bidang ekonomi, bisnis keuangan, infrastruktur. Saya banyak di bidang governance, tata kelola pemerintahan, bidang kesejahteraan manusia. Jadi kita ingin bertandem disitu. Jadi ya waktunya pendek, persiapannya cepat tapi Indonesia terbiasa kok dengan segala yang serba cepat kok.

Bagaimana Anda membaca peluang untuk menang?

Kalau peluang masih panjang ya. Kita lihat di survei-survei.
 
Anda dahulu peneliti utama di LSI, tentu sudah berpengalaman dalam hal survei.

Ya saya tahu. Saya bisa baca survei, saya bisa tahu surveinya bagaimana.

Anda akan lihat secara rasional?

Ya lah, pasti rasional. Bahkan ketika tim kita bikin survei saya minta data mentahnya. Yang menyelenggarakan itu bilang, Pak kami ini sudah menjadi konsultan survei pilkada itu, berapa tahun gitu. Ini pertama kali ada calon minta data mentahnya, katanya karena kalau saya, data mentah saya bisa pahami sendiri. Saya bisa lihat di mana tempat-tempat yang butuh perhatian.

Komunikasi dengan Eep Saefullah sering?

Komunikasi dengan semua karena hampir semua yang menjadi peneliti, yang menjadi konsultan banyak teman-teman sendiri karena ini, saya termasuk, pada tahun 2006 pada tahun 2007 ketika awal-awal banyak riset-riset, survei itu. Saya termasuk, teman-teman sendiri, saya termasuk yang sering ngobrol dengan mereka.

Me beberapa penelitian ada 30 persen swing voters. Apa itu menjadi target Anda?

Ya ada 30 sampai 48 persen. Nah mereka bukan swing voters, mereka undecided voters. Kalau swing voters itu, kalau minggu ini ke sana, minggu depan lagi ke sana, nanti minggu berikut lagi ke sana. Nah kalau swing voters itu yang harus diantisipasi di last minute. Kalau undecided itu memang blok yang belum memutuskan. Tapi biasanya kalau undecided kalau dia memutuskan biasanya dia firm, dalam undecided ada komponen swing. Itu paling enggak bahasa data kira-kira begitu.

Nah selama ini 30 sampai 48 persen, tergantung siapa penyelenggara surveinya. Tapi artinya masih ada komponen masyarakat yang cukup besar belum memilih. Ini sebenarnya bagus, artinya mereka akan menjadi pemilih yang rasional. Rasional itu artinya, kata rasio itu berarti perbandingan, rasional itu orang yang mengambil keputusan dengan membandingkan, itu rasional, rasional itu lawannya buka mistik, bukan. Rasional itu membandingkan. Nah mereka menjadi rational voters karena mereka memilih sesudah membandingkan, kemunculan nama dalam survei yang sudah muncul itu.

Surveinya dilakukan kira-kira minggu pertama setelah pendaftaran. Jadi bagi rational voters belum dengar saya mau mengerjakan apa, saya belum mendengar saya mau kerjakan apa karena itu mereka mengatakan saya tunggu dulu. Saya mau lihat, itulah komponen undecided. Kalau undecided itu masih sebesar ini, empat bulan sebelumnya itu oke. Normal. Kalau undecided angkanya masih 48 persen seminggu sebelum pilkada, nah, itu ada masalah itu. Bagaimana sudah kampanye 3 bulan kok undecided-nya masih tinggi, kebayang kan. Kalau begitu, enggak bisa diprediksi hasil pilkada. Kalau 48 persen orang mengatakan belum menentukan pilihan, bisa ke kanan ke kiri itu.

Pernah terjadi di Aceh. Di Aceh itu, sampai hari-hari sebelumnya tidak ada, setengah tidak mau mengatakan. Kesimpulan kita, mereka bukan artian undecided dalam artian itu. Mereka tidak mau menyebutkan karena sebagian merasa ini survei benaran atau tim pemenangan ya yang sedang menghitung suara. Macam-macam lah faktornya. Jadi saya berharap beberapa minggu ke depan kesempatan untuk memaparkan rencana akan muncul baik dan dari situ kita berharap angkanya makin hari makin mengecil, angka undecided.

Kalau nanti kalah pilkada sudah terbayang mau melakukan apa?

Kita semua siap, saya siap untuk apapun hasilnya, kita siap untuk menerima. Bahkan seperti saya katakan, saya mengalir kok hidup ini. Dan saya tidak bawa cita-cita. Saya bawa misi aja. Cita-cita itu sesuatu yang mau saya raih. Kalau misi itu sesuatu yang mau saya tunaikan. Misi itu, kalau saya diberikan tempat duduk ini ya saya jalankan misinya di sini, kalau saya duduknya di situ ya saya jalankan misinya di situ. Jadi posisi tidak pernah menjalankan rencana, mau menjalankan misi.

Apa sih misinya? Saya katakan, alhamdulillah kita mendapatkan pendidikan. Negeri ini sudah begitu banyak memberikan kepada kita, ini kesempatan untuk mengembalikan pada bangsa dan lewat apa, lewat segala macam kegiatan. Jadi saya tidak hanya mau terlibat urusan di nasional, daerah, di kampung ini saya adalah pembina karang taruna. Di rumah kami, tempat kita berdiskusi ini adalah tempat untuk seluruh masyarakat di sini untuk menggunakan.

Saya ingin kita  bisa ikut kontribusi dan istilah saya, mengembalikannya untuk Indonesia. Jadi ditugaskan di kabinet saya siap dan saya tunaikan. Kalau ditugaskan di gubernur saya siap, saya tunaikan. Kalau saya mendapatkan tugas yang lain saya siap saya tunaikan. Dan saya ingin mengutip kata Stanislavski, seorang dramawan Rusia. Beliau mengatakan begini, yang harus baik itu, yang harus kuat pada kekuatan aktornya, bukan perannya. Jangan mengejar peran. Dalam sebuah drama, dia ini seorang maestro teater. Kadang-kadang orang mengejar peran. Semua ingin menjadi pameran utama dalam sebuah teater tapi ada orang yang ketika diberi peran sebagai raja, pemeran utama mempesona. Orang yang sama dijadikan hamba sahaya enggak menarik lagi. Jadi kekuatan dia bukan pada aktornya, kekuatan dia pada bajunya, pada perannya.

Tapi ada orang yang berperan sebagai raja mempesona. Dipindah dia jadi hamba sahaya, memainkan teater menarik juga. Kekuatan ada pada man. Saya ingin seperti Stanislavski. Perannya boleh di mana saja tapi di tempat mana pun bisa memberi makna. Itu keinginan saya, itu misi yang saya bawa.

Apa itu menjadi bantahan bahwa Anda mengejar kekuasaan?

Kalau. Sangat dan bagi mereka yang melihat track record atas apa yang saya kerjakan selama ini saya selalu mengerjakan apa yang ada di depan saya. Saya nggak nyari-nyari kok. Apa yang ada di depan, saya pilih saya kerjakan, saya pilih saya kerjakan, gitu. Berbeda, kalau saya mencari-cari dan apakah saya melakukan tindak pidana? Tidak. Apakah saya sedang mau merusak Indonesia? Tidak. Enggak semua, justru saya ingin menggarisbawahi di  mana pun siap. Kayak Pramuka sajalah. Di sini senang, di sana senang di mana-mana hati ku senang, siap aja.

Keunggulan Anda  menurut Anda?

Kalau soal keunggulan lihat fakta di Google sajalah. Dibandingin. Enggak saya yang ngomong.  

Tetapi kalau pendapat sendiri kan kadang berbeda?

Menurut saya, ini adalah kesempatan saya menawarkan rencana menawarkan gagasan, biarkan masyarakat yang menilai di mana letak keunggulan. Mereka melakukan komparasi itu, rasional itu. Saya rasa Pak Agus adalah seorang cemerlang, Pak Basuki adalah seorang yang pekerja keras, serius. Jadi kita semua, insya Allah orang-orang yang mau melakukan yang terbaik untuk Indonesia.

Program unggulan kalau terpilih?

Jadi secara umum kalau kita bicara kelas menengah, maka kita akan bicara masalah macet dan banjir. Tapi kalau masyarakat umum luas, maka nomor satu adalah lapangan kerja. Nomor dua adalah harga kebutuhan pokok yang terjangkau, itu mungkin bagi kita yang sudah cukup mampu, lapangan kerja enggak ada masalah. Kebutuhan bahan harga pokok insya Allah terjangkau. Tapi bagi masyarakat Jakarta secara umum, justru dua hal ini yang paling utama. Setelah  itu kesehatan, lalu pendidikan. Baru banjir, dan nomor tujuh baru kemacetan. Tapi bagi pengguna Facebook, Twitter, kemacetan mungkin nomor satu, kemudian banjir mungkin tinggi. Ini memang segmen masyarakat kita yang beda-beda di Jakarta. Ketimpangan dan lain-lain. Jadi kita akan konsentrasi tidak bisa satu dua tapi harus semuanya. Jadi ada tujuh area utama termasuk banjir adalah salah satu area utama yang harus dibereskan.

Untuk mengantisipasi banjir dan kemacetan apa yang akan dilakukan?

Satu, apa sih banjir itu? Banjir itu bukan bencana alam, banjir itu pengelolaan air. Bencana alam itu, gempa bumi, tornado, tsunami, itu adalah bencana alam. Kalau ini adalah pengelolaan air. Apa sih yang terjadi. Di Jakarta itu di dataran rendah dan di dataran tinggi. Air dari hulu masuk ke Jakarta dengan volume tinggi. Jadi kurangi air di situ. Jadi bagaimana reboisasi di Jawa Barat bantu buat tanggul-tanggul di Jawa Barat karena mau tidak mau konsekuensi ke Jakarta. Nomor satu itu.

Kedua, alirannya. Pastikan alirannya tidak ada hambatan karena jika ada hambatan, maka di situ akan muncul potensi genangan. Genangan yang berlebih menjadi banjir. Itu nomor dua. Ketiga, di hilir, tidak boleh ada hambatan yang membuat air tidak bisa langsung bebas mencapai lautan. Simpel bukan.

Lalu yang keempat, bagaimana penduduknya. Mengurangi aliran air ke gorong-gorong sebisa mungkin. Rumah-rumah harus punya sumur serapan. Air yang digunakan di rumah di masukkan diserapkan ke tanah. Tapi kalau dialirkan, akan menambah volume air di gorong-gorong. Jadi mendekati masalah banjir ini itu,  kita harus memiliki pemahaman sistemnya gimana sih. Lalu kemudian, programnya adalah justru pembuatan sumur-sumur resapan di tiap wilayah. Kemudian gorong-gorong yang ada harus dibersihkan secara reguler. Dan ini harus melibatkan peran serta masyarakat.

Dengan cara begitu, maka air bisa terkelola, ketika ada hujan volume besar. Jika jalan-jalan kita itu semuanya tidak bisa meresap ini jadi masalah. Apalagi di kampung-kampung. Jalan di kampung-kampung itu dikasih aspal semua. Kalau dikasih aspal semua apa sih artinya. Air jatuh, masuknya ke parit. Dari parit kecil ke yang lebih besar, masuk ke gorong-gorong. Kemudian sampai meluap langsung. Kenapa? Karena justru jalan-jalan di kampung itu ditutup dengan cara yang enggak memungkinkan air untuk meresap. Ini contoh. Jadi justru itu yang harus di ubah.

Dibalikkan menjadi jalan-jalan yang bisa meresap. Memang problemnya, kita inginnya begini, kita ingin nyaman, naik motor di situ enggak goyang. Kalau pakai conblock, itu kan goyang. Tapi itu meresap air. Sisi lain kalau pakai aspal dilewatinya itu lancar dan nyaman tapi ketika hujan airnya melimpah ke gorong-gorong. Begitu airnya melimpah ke gorong-gorong, maka volume airnya bertambah. Besar sekali. Apalagi kalau Jakarta mengalami hujan yang intensitasnya besar

Program atasi macet?

Nah, ini juga menarik. Apa sih sebenarnya macet itu? Macet sih sederhananya adalah jumlah orang dan kendaraan yang ada di jalan lebih tinggi daripada kapasitas jalan. Jadi kira-kira begitu. Seketika di rumah ini ada 150 orang, terus ke luar dengan secara bersama-sama, ya pintu saya langsung macet di depan itu. Tapi kalau keluar irit, keluar satu-satu, berurutan atau dibuat bertahap pasti enggak ada masalah.

Jadi nomor satu adalah bagaimana mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Tapi pribadi itu, enggak bisa dilarang orang beli mobil, bagaimana solusinya. Transportasi umum ditambah dengan kenyamanan dan keterjangkauan. Kalau hanya nyaman tapi harganya tidak terjangkau pasti enggak mau pakai. Sisi lain, kalau terjangkau tapi tidak nyaman orang juga mau pindah.

Yang ketiga adalah rute yang semasif mungkin. Jadi kendaraan umum harus bisa menjangkau titik sebanyak mungkin dengan rute transit yang banyak. Jadi kalau saya dari Lebak Bulus misalnya mau ke Kalideres, maka dengan mudahnya saya mengambil kendaraan di Lebak Bulus kemudian saya bisa transit di dua tempat dan saya bisa sampai di Kalideras. Dengan secara umum. Tapi kalau di tengah tidak ada nyambungnya akan sulit sekali, yang biasa kita sebut itu terminal.

Kalau terminal itu ujung, kalau transit itu tempat untuk berganti. Nah transit poin harus diperbanyak sehingga terintegrasi sehingga orang dari mana saja bisa pergi ke mana saja tanpa harus menggunakan taksi atau ojek secara umum. Jadi itu salah satu contoh strategi. Lalu penggunaan ganjil genap dan lainnya itu baik. Namun itu hanya bisa menyelesaikan satu dua jalan protokol. Tapi kemacetan itu kan tidak hanya di Sudirman Thamrin saja. Kemacetan itu praktis terjadi di semua tempat yang ada di Jakarta. Lalu harus ada fasilitas-fasilitas untuk orang membawa barang di kendaraan umum. Jadi kalau istri anda belanja pasti repot pulangnya itu kalau naik kendaraan umum, naruhnya di mana, toh tidak dirancang untuk orang membawa barang, hanya dirancang untuk orang membawa badan. Itu kan membuat orang, mau enggak mau harus naik kendaraan pribadi. Itu juga yang harus disiapkan fasilitasnya.

Sehingga siapa pun yang berkegiatan rutin itu bisa naik kendaraan umum. Khusus yang ada kegiatan yang benar-benar banyak ya naik taksi. Tapi kegiatan sehari-hari berbelanja, bersekolah, bekerja, itu yang rutin. Itu kan harus dilakukan di fasilitasi dengan baik, tanpa itu akan sulit.

Apa menurut Anda, DKI 1 bisa jadi batu loncatan pilpres?

Bahwa dahulu ada yang pernah melakukan, tidak berarti orang berikutnya akan melakukan hal yang sama.


 
Soal anggaran Kemendikbud saat Anda pimpin. Untuk APBNP disebut Kemenkeu kurang transparan dan terserap?

Jadi terbalik pemahaman yang ada di publik. Tunjangan profesi guru itu anggaran siapa? Anggaran Kemendikbud atau anggaran Kementerian Keuangan ke daerah? Itu anggaran transfer daerah. Jadi dari Kementerian Keuangan dikirim ke pemda. Bulan Mei kami di Kemendikbud melihat kok transfer ke daerahnya kok kebanyakan karena kita tahu berapa jumlah gurunya, transfer Kementerian Keuangan ke pemda itu  besar, kelebihan Rp 23 triliun.

Jadi kami berinisiatif mengundang Kementerian Dalam Negeri, mengundang Kementerian Keuangan untuk melihat data ini, Ini kita punya datanya. Lalu apa yang terjadi, kemudian kita membuat surat dari Kementerian Pendidikan kepada Kementerian Keuangan ini, suratnya bulan Juli, ada suratnya ada berkasnya meminta Kementerian Keuangan untuk memotong Rp23 triliun. Jadi yang minta motong siapa? Kemendikbud karena menurut kami itu kelebihan.

Oke. Terus dijawab oleh Dirjen Perimbangan Keungan Daerah  dengan menulis surat kepada seluruh kepala daerah bahwa ada pemotongan tunjangan profesi guru senilai Rp23 triliun. Kenapa kelebihan,  kami punya data guru aktif  karena yang tercatat di sana guru yang udah pensiun, yang sudah mutasi masih tercatat, yang nonaktif masih tercatat, sementara kita punya guru aktif.

Jadi Kemendikbud menyelamatkan Rp23 triliun bukan Kementerian Keuangan menyelamatkan Rp23 triliun. Kementerian Keuangan mengeksekusi surat dari kami. Cuma ketika saya sudah tidak menjadi menteri entah kenapa beritanya seakan-akan itu anggaran Kemendikbud.

Nomor satu, itu bukan anggaran Kemendikbud, itu anggaran transfer daerah. Justru Kemendikbud, untungnya semuanya ada suratnya. Bahkan surat Dirjen kepada pemda pembukaannya itu mengatakan merujuk pada surat Sekjen Kementerian pendidikan dan Kebudayan yang merekomendasikan meminta untuk mengurangi, maka kita lakukan A-B-C-D-E.

Bedanya saya enggak woro-woro jadi hero. Saya menyelamatkan Rp23 triliun, enggak, kita kerjain saja karena saya percaya kebenaran itu dilakukan karena sesuatu yang normal. Sebagai pemerintah, ya kita harus begitu bukan. Masa sebagai Pemerintah ada lihat uang keliru kita diam saja. Tapi bukan kemudian melakukan itu untuk mendapatkan tepuk tangan. melakukan itu untuk melaksanakan undang-undang karena saya disumpah oleh undang-undang itu dan saya melaksanakan undang-undang itu. Ketika kemudian ceritanya jadi terbalik, saya harus meluruskan. Dan saat itu saya katakan yang memulai proses Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saya masih di situ waktu itu.  

TERKAIT
TERPOPULER
TUTUP