TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Koperasi Indonesia Bisa Maju, Tinggal Tunggu Waktu
Asalkan administrasi jangan dibuat berbelit.

VIVA.co.id – Saat ini, keberadaan koperasi seperti dipandang sebelah mata. Sejatinya, koperasi dapat meningkatkan taraf hidup anggotanya dan, pada akhirnya, masyarakat luas.

Mendiang Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta, perah mengatakan koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki  nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan ‘seorang buat semua dan semua buat seorang’.

Hal inilah yang membuat seorang perempuan pengusaha kelahiran Medan 10 Oktober 1971 terjun ke dunia koperasi. Dia adalah Sharmila.  Sebagai Ketua Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi), Sharmila memang memiliki komitmen tinggi untuk membantu para anggotanya – yang sudah mencapai ribuan – untuk mengembangkan usaha. 

Dia melihat, kebanyakan pengusaha wanita di Tanah Air memiliki permasalahan pada modal, pemasaran, dan keterampilan berusaha. Ia mengaku akan merasa bahagia jika berhasil membantu para pengusaha kecil, terutama wanita. Dia berharap, kiprahnya di koperasi bisa meningkatkan ekonomi rakyat dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

Kepada VIVA.co.id, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berbicara panjang lebar terkait koperasi dan UKM. Berikut petikan wawancara yang dilakukan pada 12 Januari 2017. Wawancara dilakukan di ruang kerjanya di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta.

Sejak kapan Anda bergelut di koperasi? 

Sudah 20 tahun saya berkiprah di koperasi. Dari koperasi primer menjadi koperasi sekunder dan sekarang jadi ketua umum Inkowapi.  Sekarang saya punya program sembako murah, memberikan pangan rakyat yang murah untuk para anggota koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah demi meringankan beban mereka dalam membeli kebutuhan pokok sehari-hari. 

Nama programnya adalah Sahara atau Sahabat Usaha Rakyat, bikin toko sembako. Jadi, kita inginnya semua beli sembako, beras, telur, bisa kita pasok dari koperasi. Dari kita untuk kita, begitu. Kita kelola sendiri. Harganya tentu berbeda banget dengan yang di pasar. Bedanya sampai 20 persen. 

Apa saja yang ditawarkan Sahara?  

Kita dari Sahara support koperasi-koperasi, komunitas-komunitas untuk akses sembako murah itu tadi. Misal cabai kan mahal nih. Kita heran, Sahara belanja cabai merah di petani 32 ribu per kg (kilogram). Kalau cabai rawit kita beli diangka Rp60 ribuan per kg. Itu yang diributin orang tangan ke berapa. Kalau di Sahara langsung dari petani. Bawang merah saja Rp24 ribu per kg. Kita jual Rp28 ribu per kg, di pasar bisa Rp30 ribu per kg. 

Saat ini outlet kita di Jabodetabek ada 10. Tapi di satu titik itu pegang 50 agen. Ada agen-agen kecil-ada 500 orang. Semua agen harganya sama dari kita. Kalau mereka beli gula sekilo-sekilo dari kita kan lumayan bisa dijual lagi.  

Contoh harga gula di mini market Rp14 ribu per kg, kita jual cuma Rp12.500 per kg.  Daging sapi Rp80 ribu per kg, kerbau Rp65 ribu per kg. Tomat Rp15 ribu-Rp16 rbu per kg. Sebenarnya saya bikin ini sudah lama. Tapi, momennya ketemu pas. Saya ingin Sahara membangun jaringan sembako murah. 

Ketua Umum Inkowapi, Sharmila

Apa permasalahan di koperasi?
 
Saya kan Ketua Inkowapi, Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia. Saya sudah tujuh tahun di Inkowapi. Selama ini kan pengelolanya perempuan semua, pengusaha semua. Masalahnya itu saja sampai hatam saya. Masalahnya klasik itu saja, berpuluh tahun enggak keluar dari masalah itu. 

Yang pertama, masalah legalitas. Mereka masih tidak mengerti masalah legalitas. Yang satu pintulah. Online lagi kan. Tidak semua pengusaha bisa online, kasihan kan. Jadi, ganti pemerintah makin baik tapi masalahnya juga makin berkembang. Saya enggak bisa membayangkan pelaku UKM itu mengurus legalitas yang susah itu. 

Jadi masih banyak yang belum mengerti?

Bukan banyak, tapi memang sulit. Jadi dari 20 tahun itu masalahnya enggak berubah. Memang sih lebih baik tapi mereka selalu mulai dari awal. Pengusaha kecil kan sering kali aktenya entah ke mana, keselip. Dia tidak bakal bisa melanjutkan yang berikutnya. Dan akhirnya banyak duit yang harus dikeluarkan untuk itu. Bagusnya, saat ini kalau sudah mengurus sekali, mengurus ulangnya lima tahun lagi. Kalau dulu tiap tahun, berulang-ulang.

Ada berapa persen anggota yang belum paham legalitas? 

Yang belum paham legalitas dari program satu pintu itu hampir 80 persen, pas ada pembaharuan ini. Tapi, semuanya sudah memiliki legalitas.  Dulu kan ada UU legalitas, yang pertama legalitas usahanya, yang kedua legalitas koperasinya. Dulu legalitas koperasi kan cukup di kabupaten kota saja di masing-masing daerah. Sekarang nasional. Jadi selama ini ada perubahan-perubahan, saya yakin memang untuk perbaikan. 

Apakah masalah itu berdampak pada minat orang banyak untuk mendirikan koperasi?
 
Iya. Sekarang orang jadi lebih pilih ikut koperasi yang sudah ada. Tidak mendirikan sendiri. Mengurus administrasinya ribet, jadi dia mengikuti yang sudah ada. Pertumbuhannya menurun, tidak bertambah. Dulu jumlah koperasi 200 ribuan lebih, mungkin sekarang jauh berkurang. Karena mereka malas urus suratnya lagi, mengurus administrasinya. Ribetlah buat mereka itu. 

Apakah di Inkowapi terjadi penurunan anggota? 

Tidak. Kita tetap. Tapi  setahun ini pembukaan cabang lebih banyak ke Indonesia Timur. 

Jadi koperasi masih menjadi harapan ya?  

Iya. Untuk kalangan ibu-ibu koperasi itu menjadi dominan. Segmen ibu-ibu itu lebih suka berkoperasi. Perempuan ini sukanya kumpul dengan komunitasnya. Itu kelebihannya. Pengajian yang sukses itu ibu-ibukan? Itu aja tolak ukurnya. 

Semua ibu-ibu itu ingin bisnis. Ingin punya income. Mau enggak mau kan dia berpikir mau bantu buat suaminya, bantu buat anaknya. Walaupun sedikit, dia kerja, jualan. Hebat perempuan Indonesia itu. Punya pemikiran untuk dapat duit. Ada bibitnya, selama saya menjalani tujuh tahun di Inkowapi, saya melihat Indonesia punya kekuatan entrepreneurship itu di perempuan. Ketika perempuan digerakkan mereka akan lebih maju.

Inkowapi itu dominan di daerah mana? 

Sudah di semua daerah Indonesia, sudah hampir 18 tahun. Sudah besar sekali. 20 tahun saya di koperasi. 

Apa harapan Anda untuk koperasi Indonesia ke depan? 

Kalau saya yakin ya koperasi Indonesia itu tinggal menunggu waktu kita menjadi koperasi yang modern. Walau tidak bisa semua, tapi pasti ada.

Parameternya apa? 

Misalnya, yang tadinya manual, sekarang sudah pakai online, yang tadinya laporan LRT-nya pakai buku-buku, laporan keuangannya sudah bisa real time.  Lalu, yang kedua pola pikirnya sudah enggak lagi charity ya. Jadi ada istilah koperasi pedati, merpati, sejati.

Kalau merpati itu kalau ada program pemerintah, ada duit nih, ada umpan datang tuh. Kaya merpati dikasih umpan jagung datang semua dari mana-mana. Kalau pedati, dipukul dulu baru jalan. Dipukul lagi jalan lagi. Kau sejati, ada enggaknya program pemerintah tetap jalan. Bagusnya sejati. Tapi Indonesia itu yang sejati hanya berapa persen. 

Penyalur KUR (kredit usaha rakyat) dari koperasi baru satu. Kenapa demikian?

Iya. Masalahnya KUR itu kan uangnya koperasi sendiri. Baru nanti dikembalikan. Kalau bank orangkan lebih percaya. Kalau koperasi itu ngutang-ngutangnya aja di koperasi. Nyimpen duitnya di mana, pinjem uangnya di koperasi. Sudah kaya jadi trade marknya. Jadi bagaimana uangnya bisa diputar.  

Uang tabungannya enggak ada. Kalau di bank tabungan orangkan banyak. Ada bunganya jadi mau enggak mau disalurin. Jadi dia (bank) punya uang cashnya banyak. Kalau koperasi enggak ada uang, uang dari mana? Pinjem lagi dari bank. 

Saat ini yang menjadi fokus Inkowapi apa? 

Kami mengedukasi anggota dengan setiap tahun ada pertemuan. Kami juga suka menyebarkan info-info baru, kalau ada kerja sama baru, misalnya dengan bikin packaging, bagaimana mengakses modal. 

Masalah apa yang sering dikeluhkan di koperasi?

Mengenai masalah permodalan. Klise tapi itu kenyataan.  Padahal sudah dapat KUR.  Menurut saya, mereka yang dapat KUR itu yang jelas datanya. Padahal orang Indonesia banyak sekali yang enggak ada kelengkapan data. Walaupun usaha kecil tetap harus ditulis. .

Akhirnya yang dapat KUR ya itu lagi-itu lagi. Karena bank enggak mau ambil risiko jadi dikasih lagi sama yang pernah dapat.  Contoh kredit tanpa agunan. Dia dapat KTA terus dari bank lain di dapat, karena data basenya sudah ada. Di KUR penyakitnya seperti itu. 

Selain itu KUR itu hanya untuk perdagangan saja. Jadi semuanya harus dagang. Harusnya juga menyasar ke pertanian, peternakan. Banyaknya dipakai di perdagangan. Alokasi belum ada ke bagian lain. Padahal, seperti pertanian dapat digunakan untuk modal pembibitan, pemupukan. 

Negara kita ini penjual, bukan produksi jadinya. Bisnisnya lebih ke jasa. Bawang aja ada dari China, India. Daging kerbau dari India semua, buat sosis buat apa. Seratnya lebih banyak tapi kalau dicampur untuk dijadikan bakso enggak terasa. Mesti kombinasi kalau kerbau. 

Selanjutnya masalah itu sistem. Saya sudah ngajarin mereka dengan sistem elektronik. Tapi mereka lupa lagi lupa lagi. Saya lihat perempuan, ibu-ibu itu cenderung setelah diajarin IT sulit untuk memahami. Lebih cepat tangkapan laki-laki, lebih melek teknologi dari pada perempuan. Mereka yang bergerak di bidang IT kan banyakan laki-laki, itu saja parameternya. 

Anda tampak sabar sekali berkiprah di koperasi dengan berbagai permasalahannya. Apa kiatnya?

Sampai habis umur melatih dengan kesabaran, enggak kerasa sudah 20 tahun (di koperasi). 20 tahun lalu saya kira akan beda sekarang tapi ternyata sama saja. Masalahnya itu-itu saja, cuma ganti aja siklusnya. True story lho, dulu sama sekarang itu sama. Maksudnya masalah dari 10 tahun lalu itu enggak ganti-ganti, tetap ada.  

Permasalahan terakhir soal pemasaran. Pinter lho mereka, anggap mereka dapat akses KUR, setelah dapat KUR, tapi mereka tidak bisa memasarkan. Pada akhirnya mereka cari pinjaman lagi untuk tutup kekurangan. Jdi masalah lagi.  Apalagi daya beli masyarakat  sekarang lagi turun. Kecenderungan perempuan memang gencar memasarkan tapi lebih memasarkan ke kelompok sendiri. Tidak berkembang. Padahal kita bisa ekspor. 

Makanya, usul saya kementerian desa fokus ke perempuan juga terkait one program one village itu. Pemberdayaan perempuan itu adalah mereka harus ikut andil ngurusin desa, sekarang kan yang ngurusin laki-laki. Padahal yang masih banyak ada di desa adalah perempuan, jadi saya mengusulkan agar perempuan desa juga dilibatkan dalam hal pemberdayaan. . 

Program koperasi Indonesia sudah semakin bagus tapi lebih bagus lagi kalau perempuannya diberdayakan. Saya kasih contoh ya di China BUMNnya banyak perempuan. Pemimpin perusahaan banyak perempuan. Pemimpin industri pertanian banyak perempuan. Pergilah ke China dan lihat perbandingannya. Perempuannya diberdayakan dan itu hebat. 

Dan di sana di bangun kawasan. Jadi produk berbasis kawasan. Kumpulan produk kawasan. Jadi, misal di darah Tanjung Priok produksi panci semua. Itu yang harusnya kita lakukan. Saat ini di dunia trendnya UKM. UKM itu tidak hanya di Indonesia. Dunia itu juga bicara UKM. China rajanya UKM. Bikin lampu saja di rumah. 

Jadi usul saya, pertama membangun industri rumahan berbasis kawasan. Misalnya satu kawasan produksi semua lampu. Supaya kita punya nilai kuantitas, kita bisa ekspor, jual harga murah. Jadi industri di satu kampung itu satu produk. Sehingga kalau mau memasarkan satu produk itu kan enak. 

Di Indonesia seperti di Cirebon yang produksi batik itu, jadi contohnya.  Tapi belum masif melakukan seperti itu. Kebanyakan juga bukan pengusaha tapi pekerja saja. Di bikin batik, dikirim barang, seperti benang, kain, disuruh kerja.  

Apa contoh yang sudah berhasil dibantu hingga ekspor?
 
Ada banyak banget. Kita jual di Shanghai. Kita jual produk itu enggak perlu yang terbaik, yang jelek aja laku. Produk China itukan juga tidak bagus-bagus banget.  Jadi begini, kualitas itu enggak perlu terbaik sedunia tapi berpatokan dengan harga, beri harga murah.

Enggak perlu kita berpatokan barang ekspor harus berkualitas dengan standar tinggi. Contohnya China, produknya jelek sedunia tapi bisa kuasai pasar dunia. Karena saya biasa turun lapangan jadi logika saya di luar logika orang umumnya. 

Produk UKM yang sudah ekspor ke China itu apa saja? 

Tas. Karena tas itu murah Rp50 ribu. Kaya kacang goreng orang belanja. Rp50 ribu itu kan sekitar US$3, di sana di jual US$5. Saya melihat ada penyampaian yang salah kalau ekspor itu harus yang the best, harus yang ISO. Dipersulit. Padahal enggak perlu lagi,  nah di sinilah peran Sahara sebagai pengumpul dan mengarahkan. 

Kalau China bisa ekspor, kita juga bisa ekspor. Ini sudah global jadi enggak usah banyak protes. Usaha aja untuk ekspor. Pelaku usaha UKM cenderungnya takut karena terlalu banyak teori yang menyulitkan. Penyuluhnya belum tentu pernah berpengalaman menjadi eksportir. Seperti dosen wirausaha yang belum berpengalaman menjadi wirausaha jadi yang disampaikan teori semua. Jadi harusnya yang jadi penyuluh itu eksportir. 

Saya lebih banyak praktik. Makanya saya bisa bicara begini. Belum tentu barang Indonesia masuk ke asing harus memenuhi persyaratan kualitas tinggi. Terutama produk sandang. Menyederhanakan masalah tidak terjadi di Indonesia, semua dijadikan repot. 

Kita harus percaya diri kalau kita mampu ekspor seperti China. China peniti aja di ekspor. Sebetulnya, kita bisa kaya raya kalau bisa kuasai pasar dunia melalui tiga hal, yaitu pertama, kuasai pasar Indonesia, kedua kuasai pasar China, dan ketiga kuasai pasar India. Karena ketiganya memiliki penduduk terbesar di dunia. 

Ketua Umum Inkowapi Sharmila

Apa prinsip Anda untuk mengubah perempuan Indonesia? 

Mengubah pola pikir. Karena yang dapat menggerakan orang itu adalah pola pikirnya. Kalau dia telah memiliki pola pikir yang sama dengan kita, hasilnya akan bisa sama. Edukasi bisa melalui cara informal. Seperti saat saya sampaikan tadi, menyampaikan produk China dan Indonesia enggak usah ekspor dengan kualitas yang tinggi-tinggi, kan memancing pola pikir kalian.

Tentunya ada keseimbangan antara penyampaian edukasi secara formal dan nonformal.  Kedua, mengubah dari pola pengelolaan uang rumah tangganya. Sampai saat ini pengelolaan rumah tangga di Indonesia banyak yang masih berantakan. Sehingga, belum mampu untuk lebih maju. 

Saya mulai usaha pada 1997 dengan modal Rp2 juta berwirausaha merenovasi sofa di garasi rumah Jakarta. Sekarang, omzetnya sudah puluhan miliar. Terjadi saat dapat proyek dari salah satu hotel besar di Indonesia untuk membenahi sofa dan kasur.

Pada usia 27 tahun pada waktu itu saya bisa naik mobil Jaguar. Jadi, kalau mau berusaha dan pengelolaan benar, pasti bisa dapat untung. Cerita susah di Indonesia itu bohong. Eggak benar kalau Indonesia itu susah. Masalahnya ada dipengelolaan. Tinggal kira-kira bisa tidak mengelola sumber daya alam dan manusia yang ada. 

Yang ketiga yang dapat mengubah perempuan untuk maju adalah fokus beriwirausaha pada satu bidang hingga jadi bisnisnya. Kebanyakan orang Indonesia tidak fokus. Masih sebentar mendapatkan untung mau coba hal baru, beralih ke bidang lainnya. Yang benar adalah kita fokus, tekun pada satu bidang dahulu. Kalau sudah mendapatkan untung yang banyak baru meluaskan bidang usaha. 

Prinsipnya itu seperti batu yang di palu di satu titik yang sama, yang dikerjakan itu sulit. Tapi, pada waktunya batu itu bisa pecah juga, artinya bisnis kita yang ditekuni akhirnya benar-benar bisa berhasil. Tidak menyerah, bersabar fokus memikirkan bisnis secara kreatif, terus berinovasi supaya bisnis itu sukses.  Hal keempat, mencari jaringan, itu pasti. Tapi, sekarang sudah bisa online, jadi bisa banyak manfaatkan itu. 

Apa penilaian Anda terkait kebijakan pemerintah saat ini dalam memajukan koperasi dan UKM? 

Program Presiden Jokowi saya setuju saja. Bagus. Bahkan 1000 persen menurut saya program Jokowi bagus, terutama jika terkait koperasi dan UKM. Tapi, tinggal lihat pengelolaannya seperti apa. Kenyataannya bagaimana. Sebenarnya ada kesan rakyat terbebani karena semuanya seketika. Masyarakat itu shock

Menurut saya hanya kurang sosialisasi program dan jangan semua dijadikan satu bersamaan, seperti kenaikan BBM, listrik. Sebetulnya tidak terasa benar ya kenaikan BBM. Tapi, karena bersamaan, beritanya gencar, masyarakat kaget.

Dan sebaiknya sosialisasi dengan implementasinya jangan terpaut jauh jaraknya, karena penyakit masyarakat Indonesia adalah pelupa. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan kebijakan Jokowi. Buktinya pertumbuhan ekonomi kita bisa naik, gini ratio kita turun. Itu kan bagus. (ren)

TERKAIT
TERPOPULER
TUTUP