TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Mengawal Perusahaan yang Didominasi Pria
Dia adalah founder sekaligus chief operating officer Doku.

Satu dekade mengembangkan Doku, bagaimana Anda melihat industri fintech di Indonesia?
Sekarang sudah sangat matang dengan banyak kategori, mulai dari lending, consumer lending, microfinance, dan sejenisnya.

Apa visi Anda terkait Doku?
Kami ingin Doku menjadi perusahaan lokal yang consumer oriented. Jadi seperti Paypal atau Alipay. Walaupun kami belum bisa secanggih mereka tapi inspirasi kami ingin ke sana.

Layanan apa saja yang ditawarkan Doku?
e-Money, remittance, payment processing. Kontribusi besar masih payment processing selama 10 tahun ini, 90 persen. Remittance belum besar karena lisensi kami dapat di 2016. e-Money sudah lama tapi butuh waktu untuk develop platform. Sudah lebih dari 500.000 download aplikasi Doku.

Bagaimana dengan pencapaian kinerja layanan itu?
Payment processing kami growth-nya sampai 30 persen year on year. e-Wallet, growth-nya eksponensial. Sedangkan remittance growth-nya masih kecil.

Menurut Anda, butuh berapa tahun agar Indonesia bisa menuju less cash society?
Selama masih diberi kesempatan untuk menggunakan cash, khususnya yang denominasinya kecil, recehan, sulit untuk menuju less cash society. Segmen A dan B (kelas atas) bisa, tapi C dan D (kelas low) sulit. Padahal dua segmen bawah itu yang butuh sebenarnya, mereka yang unbankable (tak tersentuh bank). Sepertinya masih lama menuju less cash society, mungkin lima tahun lagi.

Apa resep Anda agar wanita bisa bertahan di industri yang didominasi laki-laki?
Intinya adalah menjadi lembut sekaligus tegas, memberikan arahan yang jelas tentang apa yang kita inginkan. Yang terpenting, saya tidak pernah menganggap gender sebagai sebuah masalah. (art)

TERKAIT
TERPOPULER
TUTUP