TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Jakarta Butuh Pemimpin yang Tidak Labil
Anies optimistis, namun Tuhan yang tentukan takdir di Pilkada DKI.

Kesiapan tim Anda mengantisipasi kecurangan di hari pencoblosan nanti bagaimana?

Insya Allah siap. Sudah belajar dari kejadian kemarin, kalau lucu jangan ditertawakan tetapi dihadapi dan ditindak, kira-kira begitu. Hahaha. Kelucuan-kelucuan itu, ya putaran pertama kemarin istilahnya lucu aja dah, Pilkada angkanya 96 persen, unik gitu. Tetapi, barangkali menarik juga nanti sebagai studi ilmu politik ya, mereka yang belajar ilmu electoral mungkin menarik untuk melihat fenomena ini pilkada putaran pertama. Nah, itu bisa jadi ada pelajaran penting bagi penyelenggaraan pilkada di Indonesia dan bagi ilmu electoral di dunia.

Jika terpilih, bagaimana Anda membangun komunikasi dengan DPRD DKI?

Begini, apakah Jakarta satu-satunya tempat yang punya gubernur? Enggak kan. Apakah Jakarta satu-satunya kota? tidak. Apakah Jakarta satu-satunya kota yang pakai DPRD? Tidak. Ada ratusan kota, ada ratusan kabupaten, ada puluhan provinsi. Kok di tempat lain aman nyaman. Memangnya di tempat lain gubernurnya tidak bekerja baik gitu, baik kok. Jadi, enggak usah bandingkan dengan saya. Bandingkan dengan tempat-tempat lain. Di Sulawesi Selatan, gubernurnya baik, jalan itu, di Maluku gubernurnya jalan. Anda sebut saja, di Jawa Barat gubernurnya baik, berjalan baik. Di Surabaya, walikota bekerja dipuji banyak orang, bekerja baik dengan DPRD. Banyuwangi, saya bisa sebutkan begitu banyak.

Jadi problemnya bukan sekadar, oh DPRD dengan gubernur, enggak kok. Di tempat lain ada DPRD dan gubernur bekerja lancar. Karena itu Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang bisa komunikatif, pemimpin yang tidak labil, kepemimpinan yang bisa merangkul bukan memukul. Kalau ada kepemimpinan yang merangkul, tidak labil, bisa komunikasi ya Insya Allah dengan siapa saja bisa bekerja dengan baik. Justru yang kami tawarkan bagaimana warga Jakarta bisa mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari aset yang dimiliki pemda, dari anggaran yang dimiliki pemda.

Sudah lima bulan lebih blusukan, termasuk kampanye, bagaimana keyakinan Anda memenangkan Pilkada DKI?

Semua di tangan Allah. Bagian kita adalah berusaha. Takdir sudah dituliskan, kita bekerja, melihat suasana kami optimis. Tapi, semuanya di tangan-Nya. Karena ini bukan sesuatu yang linear, Allah yang maha menentukan. Jadi kami menjalani takdir, bila ditakdirkan kami siap.  Bila ditugaskan lain kita siap. Kita menjalani saja. Saya jadi calon gubernur enggak usah ditanya, 8 bulan yang lalu saya enggak mengira. Siapa yang mengira, wong saya tidak berencana selesai tugas dari kementerian. Pak Presiden memutuskan saya cukup, selesai. Saya kembali ke rumah bekerja dengan anak-anak. Saya jalanin tugas baru ini. Jika takdir dari Allah ditakdirkan saya jalankan. Dan, saya yakin bahwa Tuhan yang maha kuasa sedang merencanakan perubahan kemajuan untuk kita semua di Indonesia apalagi di Jakarta. Saya bagian ikhtiar, bagian doa. Ribuan orang berikhtiar, berdoa. Semuanya di tangan Allah.

Jika nanti belum terpilih, apa yang akan Anda lakukan?

Kita lihat tanggal 19 besok.
(one)

 

TERKAIT
TUTUP