TUTUP
TUTUP
WAWANCARA
ANALISIS
Bisnis Apa Saja di Indonesia Pasti Untung
Tak mau berpuas diri sebagai artis, Dian kini jadi pengusaha digital.

Membangun Bisnis

Bagaimana ide awal membangun Frame A Trip dan proses bertemu dengan co-founder lain?

Kebetulan saya memang berkawan dengan teman-teman itu. Jadi saya kenal mereka dari Michael Tampi dan Michael itu teman saya olahraga sebenarnya. Kita berdua punya passion terhadap olahraga. 

Michael punya perusahaan fotografi dan video. Kalau saya selama ini berkarier sebagai fotomodel juga, film juga, segala macam. Kebutuhan saya akan supply fotografer profesional juga semakin besar. 

Akhirnya saya dikenalkan Michael dengan teman-temannya yang juga revolusioner juga. Kita cocok nih secara bisnis. Visionernya sama. Keinginan untuk membuat kontribusi bagi negeri sendiri juga sama. Dari situ kita punya semangat. 

Sekarang hitungannya saya cuma pekerja seni. Kalau misalnya saya enggak merambah ke dunia bisnis cepat atau lambat saya enggak akan berkembang juga.

Saya sudah banyak terinspirasi dari teman-teman saya yang pekerja seni tapi juga mulai masuk ke startup, seperti Giring. Kayaknya perlu makin banyak teman-teman pekerja seni yang mungkin makin menginspirasi orang juga untuk berwirausaha. 

Lihat juga: VIDEO Dian Sastro Terjun ke Dunia Startup Fotografi

Bisnis Baru Dian Sastro

Aktris Dian Sastrowardoyo saat ditemui VIVA.co.id di Jakarta, Selasa, 6 Juni 2017. Foto : VIVA.co.id/Muhamad Solihin

Visi dan misi Frame A Trip?

Visinya kita ingin mendominasi market dunia, internasional dengan menjadikan diri kita satu-satunya marketplace yang bisa mempertemukan traveller dengan traveller fotografi. Jadi cita-cita kita enggak cuma di Indonesia saja, tapi kita ingin internasional. Jadi kalau bisa orang satu dunia ini cari traveller fotografi ya carinya ke Frame A Trip. 

Tapi kalau misinya kita simpel banget. Pada saat ini kita misinya adalah untuk mengedukasi orang tentang adanya travel fotografi ini. Orang itu sudah pasti ingin posting, orang sudah pasti travelling. Tinggal bagaimana caranya mereka memikirkan travelling fotografer yang kita provide ini menjadi salah satu solusinya. 

Sekarang ini mereka lebih berpedoman dengan selfie atau minta difotoin orang, atau tongsis. Jadi kalau mau benar-benar bagus posting-nya, yuk kita sediakan fotografer lokal. Enggak mahal juga. 

Bagaimana Anda melihat potensi lokal?

Kita melihat potensi lokal subur banget.  Kita kan negara highly-populated in the world. Kita nomor empat. Jadi dari demographic bonus-nya saja itu sudah sangat menguntungkan kita. Sebenarnya, bisnis apa saja di Indonesia pasti untung. Kalau berpegangan dengan domestic consumption pasti untung. 

Tapi kita punya cita-cita bahwa kita juga tidak bisa mengandalkan market kita cuma orang Indonesia. Kita juga melihat bahwa yang butuh posting, fashion blogger atau mungkin travelling blogger itu enggak cuma orang Indonesia saja. Bahkan kita juga ada neighboring countries, Asia Pasifik. Maksudnya kita juga tahu bahwa orang Asia ‘banci’ tampil. 

Yang namanya tongsis itu kan munculnya di Asia. Jadi kita sangat aware banget dengan keinginan foto-foto, hobi berfotonya orang Asia dan juga kita melihat even orang Amerika dan Eropa juga awareness-nya sudah mulai naik bahwa sekarang social media enggak cuma buat teman dan saudara saja, tapi bisa menjadi tempat untuk memarketkan diri kita, personal branding

Jadi orang bisa berkarier di situ. Di situlah di mana keinginan dan kebutuhan untuk memposting dengan kualitas gambar editorial jadi muncul. Kalau page social media kita jadi tempat membrandingkan diri kita itu mulai muncul, harus kualitas studio lah.

Apa yang membedakan Frame A Trip dengan startup lain yang bergerak dalam bisnis serupa?

Keunikan kita dari kompetitor kita itu ada beberapa. Yang pertama, kita itu very affordable. Kalau kompetitor kita mungkin enggak se-affordable kita. Kalau kita harganya dimulai dari US$265 atau kurang lebih sekitar Rp3 jutaan. 

Dengan Rp3 juta itu, kita sudah dapat dua jam fotografer eksklusif buat kita. Terus kita sudah dapat 70 high resolution pictures yang sudah diedit secara gratis oleh tim kita. Sudah layak tayang dan itu pun kalau kita blow up sampai kita mau print 60 x  80 sentimeter dia enggak pecah. Jadi benar-benar high resolution. Kita punya jasa editing-nya juga. Jadi benar-benar mau make sure komposisi sama warna dan segala macam, saturation-nya sudah seimbang semua.

Keunikan kita yang kedua, kita mem-provide klien kita dengan personal assistant. Jadi kita menyediakan satu orang yang akan membantu klien untuk janjian sama fotografernya. Kedua, ngasih suggestion best spot untuk pemotretan bagusnya di mana. Ketiga, ngasih suggestion untuk wardrobe

Misalkan kita mau foto sekeluarga kita bagusnya sih di tempat-tempat banyak pohon kayak begini, bagusnya wardrobe-nya ini. Jadi sudah ada diskusi soal ini sampai cuaca. Ramalan cuacanya. Kalau kita lagi travelling kan kita kadang suka enggak aware di sana tuh lagi dingin atau lagi panas. Kira-kira pakai jaket ini ketebelan apa enggak sih. Jadi kita mau mem-provide customer kita dengan itu. 

Keunikan ketiga, fotografer enggak kita langsung sodori begitu saja. Kita tahu banget masalah industri visual seperti ini, selera klien kita sangat-sangat kunci. Orang itu beda-beda seleranya. 

Jadi kadang-kadang sebelum kita menjodohkan fotografer dengan klien, kita kasih option dahulu sama kliennya. ‘Bu kalau di Positano, misalnya. Di kota ini fotografer yang available ada tiga.’ Tiga-tiganya, portofolionya kita kasih. ‘Ibu sukanya yang mana?’

Jadi mungkin ada yang lebih dark, lebih dramatis. Ada yang dreamy flowy-flowy kayak fotografer wedding. Ada juga yang lebih kasual. Itu terserah ibunya. Jadi kita memberikan option kepada klien.

Terakhir pembeda kita dengan kompetitor kita adalah kita money back guarantee di mana pada saat customer tidak puas, kita bersedia untuk mengembalikan uangnya. Dan kelima, ada element of surprise. Kalau kompetitor kita enggak ada. Element of surprise itu baru bisa saya kasih tahu kalau jadi klien saya.

Selanjutnya...Susun Strategi

TERKAIT
TERPOPULER
TUTUP